Clubeighties, “Lima Orang Goblok Dikumpulin Jadi Satu”

Dimuat di rubrik Karung Musik, Karung Goni Edisi 1 Generasi 4

Club 80s on shooting location for Ramadhan TV program

 

Suasana riuh rendah di Parkir Timur, Senayan. Mulut penonton sibuk meneriakkan satu nama berulang kali, Clubeighties. Malam itu (13/5) Senayan bukan dibuat bergelora oleh Bung Karno, melainkan oleh kemunculan Clubeighties yang kompak mengenakan topi. Acara bertajuk Retroholic Clubs 2006 menjadi ajang yang tepat untuk pengusung musik 80-an ini untuk tampil. Apalagi saat lagu Dari Hati berkumandang. Clubeighties sanggup menyihir penonton untuk ikut bernyanyi.

 Setelah tiga tahun tidak menelurkan (ayam kali ah-RedIseng) karya baru, Lembu Wiworo Jati (vokal), Cliffton Jesse Rompies (Gitar), Vincent Ryan Rompies (Bass), Deddy Mahendra Desta (drum) dan Sukma Perdana Manaf (Kibor), kembali menyajikan album bertajuk Summer ‘83 dengan menggandeng (sst..jangan gandeng!-RedSunda) label baru, Malta Music Indonesia. Meskipun atmosfer 80-an tidak sekental dahulu, tapi Clubeighties menunjukkan konsistensi konsep musik mereka.

 Iseng Tampil Beda

Clubeighties menemukan konsep musik 80-an secara tidak sengaja. Band ini terbentuk dari keisengan personelnya menyajikan sesuatu yang berbeda untuk meramaikan acara pentas seni bertajuk Bakar-bakaran pada Oktober 1998 di kampus mereka, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Tapi, pertemuan mereka bukan secara tidak sengaja. Ternyata mereka sudah berteman sebelum berkumpul di IKJ. Cliff dan Vincent yang kakak-beradik berteman sejak kecil dengan Desta karena bertetangga. Vincent terkenal dengan band yang sering manggung di IKJ, “Parklife”. Cliff dan Desta tergabung dalam satu band yang selalu mengusung rock alternatif ala Smashing Pumpins, “Channel 69”. Lembu menjadi senior Desta di kampus. Walaupun, Sukma yang akrab disapa Yton (baca: Itong) baru mengenal semuanya karena ia teman sekelas Vincent.

Uniknya, vokalis band elektropop Goodnight Electric, Henry Foundation (29) berjasa menyatukan mereka semua dalam satu band. Secara namanya Foundation, ternyata pria yang akrab disapa Betmen ini yang membuat fondasi berdirinya Clubeighties. Bahkan, pria yang berkerja sebagai freelancer ini yang memberi nama Clubeighties. Kata “Club” berasal dari band 80-an “Culture Club” karena mereka membawakan lagunya. Sedangkan, “Eighties” muncul dari impian untuk memiliki klub malam yang berbau 80-an.

Clubeighties pun akhirnya terbentuk karena rasa bosan Henry terhadap musik yang digandrungi di IKJ. Masa 1997-1998, IKJ sedang demam musik retro 70-an. Akibatnya, banyak band bermunculan dengan mengusung back to seventies, seperti Naif. Desta yang menggemari Duran-Duran menyambut gembira tawaran Henry. Dia pun menyeleksi personel Clubeighties berdasarkan fisik.

 “Kalau band harus ganteng neh orang-orangnya. Walaupun, nggak ganteng-ganteng amat sih (Biar memble asal kece-Red80sBerat), ” ujar cucu pencipta komik silat terkenal Koo Ping Hoo ini.

Saat pertama kali manggung semua properti hingga kostum dan make-up layaknya musisi 80-an sudah dipersiapkan. Semuanya dilakukan untuk menampilkan sesuatu yang beda dan lucu pada malam itu.

 “Lembu didandanin abis kayak Boy George (vokalis band 80-an,Culture Club, yang bergaya feminin), cantik banget! Kita semua juga tampil yang norak-norak gitu. Kita mau bikin kejutan buat penonton. Pas kita keluar, ternyata bukan (giliran) kita yang main. Jadi, terpaksa mundur. Terus, kita diketawain anak-anak, ‘Ha..ha..ha…Ikang Fawzi!’” kenang Henry yang dikenal sebagai DJ Robot seraya tertawa.

Sayangnya, justru ketika Clubeighties mulai berkibar, Henry terpaksa keluar. Sewaktu membentuk Clubeighties, Henry sudah tergabung dalam band hardcore yang juga bandnya Jimi The Upstairs, “Be Quite”. Akhirnya pada tahun 1999, alumnus D3 Seni Rupa angkatan ’95 (Ih, tua amat deh-RedImut) ini terpaksa hengkang (bukan Hengkang Tornado-RedPenggemarSinetron) dari Clubeighties. Posisinya diganti oleh Cliff pada gitar. Desta beralih menjadi drummer.

Dukungan orangtua tidak lepas dalam membantu Clubeighties ke dapur rekaman. Ayah Yton komposer, Dadang S. Manaf, berjasa menawarkan demo Clubeighties ke perusahaan rekaman, Universal Music. Kaset demo berisi tiga lagu berhasil mengantarkan Clubeighties masuk ke dunia musik Indonesia.

Tidak Total 80-an

Saat musisi Indonesia sibuk mengusung rock alternatif dan punk, Clubeighties menggebrak dengan single pertama yang kental dengan cita suara 80-an, “Gejolak Kawula Muda”. Clubeighties menjadi musisi pionir yang membangkitkan kejayaan musik “dekade gagal”. Walau mengusung retrofilia era 80-an, mereka tidak mau kreativitasnya dibatasi.

 “Karena memang dari pertama kali Clubeighties bertekad ini band nggak total 80-an. Influence dari lagu-lagu yang baru dibungkus dengan nuansa 80-an,” ujar Vincent.

Aksi panggung Clubeighties pun dinilai “gila”. Clubeighties sempat terkena masalah karena Vincent manggung telanjang (Aw, mau dong!-RedGenit) di pensi SMU Tarakanita.

 “Belum punya duit saat itu masih baru-baru,”canda Lembu peraih penghargaan Bronze dari Adicipta Pariwara 2005 ini.

Penjualan album Summer ‘83 hanya mencapai 150.000 kopi sepanjang tahun 2005. Tapi, berbanding terbalik dengan tawaran manggung Clubeighties yang senantiasa ramai. Lantas, apa yang membuat band ini menarik?

“Kita minim skill semua. Cuma kegoblok-goblokan itu kita nggak terlalu paksain jadi jago. Lima orang goblok dikumpulin jadi satu, belum tentu jadi goblok. Jangan sampai kekurangan itu menjadikan sebuah hambatan. Justru lu harus mengisi kekurangan lu dengan sesuatu yang lain. Dengan disupport sama sesuatu yang kurang lagi,” terang Lembu yang pernah menjadi desainer kop surat KPU saat pemilu

Berharap Punya Anak

Berangkat dari kerja keras, Clubeighties menerima penghargaan Best Instrumental Song pada ajang AMI Sharp Award 2002. Videoklip mereka pun juga berhasil meraih Best Video of The Year dari MTV Indonesia tahun 2002. Bahkan, Clubeighties mendapat tawaran untuk membuat satu program TV sendiri, “Etis Gak Eighties”. Clubeighties sudah mensyukuri semua yang dicapainya hingga saat ini.

“Kita sudah jadi keluarga besar, ada player-nya, tim manajemennya, kru, ada Dharma Wanita (pacar personelnya). Kita berharap nanti ada satu aggota baru lagi yaitu anak-anaknya Clubeighties (sama eneng ajah, Bang-RedJomblo). Kalau kita bisa sampai tua hidup dari Clubeighties, kenapa tidak? Semoga bisa hingga akhir masa,”ujar Cliff dengan bijak.

Wah, harapan Clubeighties selanjutnya ternyata mau menikah nih?

(Karlina”Alin”Octaviany, Jurnalistik’03)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s