Men Are From Venus, Women Are From Mars

Dimuat di rubrik Karung Liputan, Karung Goni Edisi 1 Generasi 4

Pembicaraan tentang seks selalu akan menjadi berita menarik. Apa yang terpikir ketika tercetus kata “seks”? Menurut kamus Oxford, kata “sex” dapat berarti “state of being male or female” . Apakah manusia bisa memilih jenis kelamin ketika dilahirkan? Apakah manusia punya kemampuan untuk merubah jenis kelamin?

            Teori Dramaturgi mengambil peranannya. Masyarakat menuntut kita berperilaku sesuai peranan di lingkungan itu. Peran kita menjadi laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin mendikte perilaku kita. Sejak kecil sudah ada batasan masalah gender. Cewek main boneka, cowok main mobil-mobilan. Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Apakah itu hal aneh? Belum tentu.

            Pergeseran gender bukan hal aneh. Beberapa tahun ini muncul fenomena menarik dari gaya hidup dan identifikasi kaum urban kota-kota besar. Pria metroseksual bukan berita baru. Mereka adalah sosok pria yang berani menampilkan sisi femininnya. Para lelaki ini memiliki tampilan dandy, wangi, sangat peduli penampilan, senang memanjakan diri terutama ke salon, memiliki sense of fashion yang tinggi. “Gue sih suka, ngga apa-apa. Tapi, jangan nyaingin gue,”ujar Yulia (K1A03158).  

            Metroseksual berasal dari etimologi Yunani, metropolis , artinya ibukota, plus seksual. Pria berpenampilan flamboyan belum tentu dapat dinilai homoseksual atau gay. Singkat kata, pria metroseksual adalah pria berumur 20-35 tahun memiliki uang untuk bergaya hidup hedonisme yang tersebar di penjuru metropolitan, bisa di gym, salon, mall, klub, kafe, dan lain-lain. Pilihan mereka untuk menjadi homoseksual, biseksual atau heteroseksual. Masalah orientasi seksual itu off the topic.

            Terminologi metroseksual sendiri pertama kali diusung oleh Mark Simpson , penulis asal Inggris, pada tahun 1994 di sebuah website. Istilah ini berkembang relatif lambat dari satu media ke media lainnya sepanjang tahun 1994 sampai awal tahun 2000-an. Simpson kembali menulis artikel di majalah online Salon.com, mengenai pria metroseksual pada 22 Juli 2002, langsung saja fenomena ini begitu menggejala di seantero dunia.

Pemunculan David Beckham dengan kebiasaan uniknya ke salon untuk mengganti cat kuku, berganti-ganti potongan rambut, menggunakan celana dalam istrinya, hingga berpose bugil untuk majalah gay menjadi contoh kasus awal dunia tentang wujud pria metroseksual. Beckham berhasil menjadi simbol narcisistik internasional yang merupakan ciri khas pria metroseksual. Ikon orang terkenal memacu banyak pria untuk mengikuti jejak Beckham. Terbukti, hasil survey menunjukkan penjualan kosmetik untuk pria di wilayah Asia Pasifik meningkat 11% dari tahun 1997-2001 dan sekarang nilai penjualannya sudah mencapai AS$ 2,7 miliar per tahun.

Bagaimana dengan wanita? Cewek tomboi sudah menjadi berita basi. Kalau seorang cewek dengan gaya cuek dan tidak suka berdandan dapat dikatakan tomboi. Tapi, semakin lama kian ekstrim. Banyak wanita tidak segan menggunduli rambut dan berpakaian maskulin. Keraguan preferensi seksual sering pula dituduhkan. Aneh? Belum tentu.

“Cewek tomboi lebih identik ke olahraga. Orangnya aktif, supel, nggak terlalu mikirin dandanan,”ujar Astri (K1A03089).

Ikon cewek tomboi seperti Xena The Warrior Princess. Cewek dengan segala keperkasaannya, jago bela diri, gayanya cuek, suka olahraga, pecinta alam, temannya kebanyakan cowok, dan lain-lainlah. Tapi, Xena tidak kehilangan sisi femininnya. Terbukti, dia asyik-asyik aja kalau pakai rok dan tentunya masih suka sama cowok.

Manusia terlalu kompleks untuk didefinisikan berdasarkan jenis kelamin. Keadaan biologis sulit menjadi dasar pengkotakan manusia. Lingkungan menuntut perilaku, penampilan, sampai hal yang kita sukai harus sesuai dengan standar jenis kelamin kita. Tidak ada yang lebih buruk dari menjadi pribadi yang bukan diri kita. Apakah menjadi metroseksual dan tomboi itu suatu kesalahan? Siapa yang berani menilai?

Hal yang paling buruk ketika krisis gender ini diidentikkan dengan penyimpangan orientasi seksual. Metroseksual itu gay, dan tomboi itu lesbi. Pemikiran-pemikiran seperti ini menjadi sangat sempit. Penampilan bisa menentukan orientasi seksual itu luar biasa. Do’t judge a book by it’s cover!Apakah ada style khusus gay dan lesbi? Orientasi seksual sangat sensitif. Penampilan dan gaya hidup tidak bisa menjadi standarisasi.

Ceweknya jagoan bela diri, cowok yang suka menari. Fenomena ini bukan sesuatu yang sulit dicari. Ada di sekitar kita terutama di Fikom tercinta. Banyak orang yang menutup dirinya karena hal yang disukai berbeda dari ekspektasi orang lain atas jenis kelaminnya. Lihat film “Me Vs Highheels”? Cewek dituntut memakai sepatu hak yang menyakitkan kaki agar dianggap berperilaku sesuai jenis kelaminnya.

Sifat manusia bermacam-macam dan jenis kelamin tidak akan sanggup mengidentifikasinya. Sexism hanya mengukung manusia berdasarkan jenis kelamin. Kita harus memperluas paradigma. Bertindak di luar ekspektasi orang lain itu sah saja. Hal yang paling dasar kita menampilkan diri kita yang sebenarnya. Jangan terlalu mengubur diri karena tuntutan lingkungan. Semua orang berhak menjadi dirinya sendiri. Tidak ada yang aneh dari itu.

Mengukur derajat kenormalan tidak berlandaskan penampilan semata. Metroseksual dan tomboi hanya gaya hidup, bukan orientasi seksual. Mengapa harus takut berpenampilan sesuai keinginan kita? Manusia berhak menentukan bagaimana dirinya ingin dipersepsi oleh orang lain. Jadi, jangan mau didikte alat kelamin sendiri. Itu nista! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s