Retroholic Clubs 2006 : Yang Muda, Yang Bergaya Tua

Dimuat di rubrik Karung Liputan, Karung Goni Edisi 1 Generasi 4

Biasanya acara yang bertemakan retro dihadiri oleh om-om atau bapak-bapak kita. Tak begitu ceritanya di gelaran Retroholic Clubs 2006 yang diprakarsai event organizer (EO), Intive Production. Ribuan anak SMU menyesaki Plaza Timur Senayan, Jakarta, Sabtu (13/5), dengan berdandan seakan mereka diterbangkan mesin waktu dari masa lalu (pasti temennya Doraemon ya?-RedJayus). Rasanya fenomena retro bukan lagi milik generasi tua.

“Katanya semua tiket sudah dibeli calo. Nggak tahu deh panitianya masih punya tiket on the spot atau nggak,” ujar Bondi, salah satu personel Goodnight Electric yang manggung malam itu.

Isu masalah tiket santer (atau pelet?-RedDukun) menjadi perbincangan para penonton. Bahkan, ada yang sudah memburu tiket jauh-jauh hari karena ada isu tiket pre-sale hampir sold out. Panitia pun banyak mengumbar janji, seperti ticket box yang buka dari pukul 11.00. Ternyata, tiket baru dapat dibeli setelah pukul 14.00. Acara yang menjanjikan keriaan mulai pukul 12.00 pun harus ngaret hingga pukul 15.30! MC-nya hanya mampu berapologia, “Namanya juga Indonesia.” Hal ini membuat tanda tanya terhadap profesionalitas (aih, bahasanya, Cing!-RedBetawi) EO yang perdana menggelar acara pentas seni seperti ini.

Penantian setelah sekian lama akhirnya tertuntaskan setelah datangnya Sekarwati, band yang menampilkan aliran modern pop impressionist. Vokalisnya sempat membuat bingung karena seperti pinang dibacok dua dengan Jarwo Naif. Puas membawakan 10 lagu, band ini pun membuat heboh dengan lemparan celana pendek, stiker, dan CD. Berhubung banyak anak SMU, mereka pun melayangkan pertanyaan seputar pelajaran tentang Hukum Keppler, Archimedes, dll. Penonton diam seribu bahasa, tak sanggup menjawabnya.

Langit senja mengundang datangnya Sore. Band beraliran retro jazz ini disambut dingin (dingin empuk-RedIklan) kawula muda Jakarta. Mungkin dance scene sedang menggelora di ibukota dan jazz bukan salah satu aliran mereka. Padahal band dengan album Centralismo yang disebut-sebut sebagai “One of Five Most Worth Buyying Album” versi Times Asia ini berusaha tampil maksimal dengan menggaet David Tarigan (itu loh yang main jadi Trio D’Lawas di film “Garasi” loh, Jeng!-RedGosip). Ade Paloh yang tangannya keseleo (kalo kamu kesel sama siapa?-RedGaring) tetap tampil menyanyikan lagu andalan seperti “Pergi Tanpa Pesan” (Ost. Berbagi Suami) dan “Funk The Hole” (Ost. Janji Joni). Sayang sekali jatah Sore hanya 5 lagu karena hari mulai malam.

Usai break Maghrib, keriaan berlanjut dengan kemunculan Jiung, band yang mengaku (bujangan kepada setiap wanita-RedJadoel) beraliran rock and roll brutality psychedelic. Kehadiran band jelmaan Benyamin ini mendapat sambutan meriah dari penonton katika membawakan lagu-lagu Benyamin, seperti “Abang Pulang”. Histeria massa pun dibalas Jiung dengan atraksi heboh Aju, sang vokalis yang membuka bajunya, mandi, hingga naik ke atas pohon. Atraksi ala topeng monyet itu pun membuat pasukan pengaman yang penuh dengan otot itu turut heboh bertindak.

Goodnight Electric menjadi salah satu line up artist yang ditunggu-tunggu. Pasukan pecinta listrik ini pun kompak bergaya ala petugas PLN dengan jumpsuit berwarna biru membawakan lagu baru “Versus (Godzilla)” dari album kedua yang akan rilis akhir tahun. Trio ini pun menggoyang Senayan sehingga penonton pun berdansa basah.

Yeah, Goodnight Electric sukses melawan pawang hujan sehingga penonton pun terserang gerimis mengundang. Setelah pada Les Voila synthesizer Bondi rusak, kini giliran Oomleo terkena getahnya. Kerusakan alat cukup lama terjadi sehingga sempat membuat tegang para teknisi di panggung. Memang listrik juga kadang tidak bersahabat.

Kehadiran Clubeighties mewarnai nuansa retro malam itu. Band pengusung (jenazah hiii…-RedFans Suzzana) musik 80-an ini bergaya kompak dengan topi ala mafia. Nuansa retro kian kental ketika lima sekawan ini membawakan hits Anggun C. Sasmi, “Tua-Tua Keladi”. Aih, serasa dibawa kembali ke zaman topi baret masih berjaya. Clubeighties pun meninggalkan suasana romantis dengan lagu “Dari Hati” diiringi keremangan cahaya lampu handphone, korek api disertai fireworks yang menghias langit.

The Upstairs seakan menjadi puncak acara malam itu. Band yang baru saja menapaki kariernya di label major (kalo Kapten labelnya apa dong?-RedDreamband) Warner Music Indonesia ini sempat membuat kesal penggemarnya karena terlalu lama checksound (mungkin sekalian cek kesehatan-RedMauKKN). Menggebrak dengan “Hanya Aku, Musik, dan Lantai” mampu mengubah tanah Senayan seakan lantai dansa. Penonton pun berdansa resah diiringi sekitar 6 lagu dari band beraliran new wave ini. Ditutup dengan lagu “Alexander Graham Bell” dari kompilasi “Jkt: Skrg” yang cukup jarang dimainkan.

Naif yang menutup perjumpaan Retroholic Clubs 2006 kurang mendapat perhatian massa yang banyak pulang seusai The Upstairs. Gelaran ini menyisakan banyak catatan.

“Gue aja nggak dapat name tag!”keluh Fisma aka Gepeng, manajer Goodnight Electric.

Bahkan, masih banyak kru dari bintang tamu yang tidak mendapat name tag. Padahal keamanan cukup keras menindak mereka yang berlalu-lalang di backstage tanpa kehadiran name tag. Panitia dari Intive Production yang berjumlah hampir 90 orang ini pun menghadirkan pasukan keamanan yang terlampau galak. Terutama ketika salah satu personel Sekarwati yang hendak turun membagikan hadiah ditahan langsung oleh om-om berotot dengan muka horor sehingga dia jadi takut (Ih, ceyeem…-RedImut). Padahal itu termasuk bagian dari interaksi artis dengan penonton. Sedangkan, atraksi copet-mencopet seharusnya menjadi perhatian lebih keamanan.

Berbeda sepert gelaran di Bandung yang didatangi berbagai usia, acara ini seperti pensi SMU yang diprakarsai EO. MC pun terus-menerus mendengungkan stigma yang datang ke acara ini hanyalah anak SMU belaka. Sehingga buat kita-kita yang sudah kuliah jadi merasa tua dan kehilangan komunitas (kayak pas yang lain sudah wisuda dan lu belum-RedBaca CurhatColongan). Bahkan, berita lost and found barang pun tentang ditemukannya kartu ujian praktek seorang anak SMU, maklum UAN sebentar lagi

“Gue kurang nyaman dengan suasananya. MC-nya itu loh terus-terusan bilang, ‘Dari SMU mana?’ Kesannya yang datang anak SMA semua,”keluh Heru (20), salah seorang penonton.

Apalagi melihat penonton yang datang berdandan lebih heboh dari saat gelaran Clearnation di Bandung. Bayangkan, ada yang bawa raket bulutangkis, Bo! Gokil nggak tuh? (Icux Sugirto kalah dah gayanya-RedJadul) Buat yang datang dengan baju kaos dan celana jeans biasa akan merasa seperti ada di Mars (dengarkan album The Upstairs track 1-RedPromosi).

Acara yang nyaris IKJ-sentris ini patut pula menuai pujian karena mampu mengumpulkan band yang sedang naik daun saat ini. Tema retro yang diusung pun cukup menjual sehingga tiket laris manis.

Patut menjadi catatan bahwa ngaret jangan dilestarikan menjadi budaya Indonesia. Karena tidak akan baik jika kita harus senantiasa mengekspor karet dan mempromosikannya sebagai komoditi ekspor andalan Indonesia. Kasian para pedagang batik bakal medapat saingan. Apalagi kalau pohon karet terus-menerus ditebang akan mendatangkan banjir terutama bagi Jakarta. Jadi, kalau tidak mau Jakarta terserang banjir, say no to rubber watch!

(Karlina”Alin”Octaviany, Jurnalistik’03)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s