AKSITERROR, MENYEBAR TERROR

Press release for mini album, Uncluster.com, and High Octane Zine

MENYEBAR TERROR

Ketika heavy metal dan hardcore berselingkuh dengan blues demi melahirkan perpaduan yang orgasmik. 

 

AKSITERROR (kanan ke kiri): Rio, Anto, Jeri, Yuda

 

“Kalau gue sih akan mainin musik rock terus sampe kapanpun! Biar orang-orang tahu rock itu bukan cuma negatifnya saja. Tapi, sebuah kepercayaan dan keyakinan buat orang-orang yang juga percaya dan yakin dengan rock. Musik rock itu suara kebebasan. Tapi, kalau mereka masih menganggap negatif, ya bodo amat jugalah. Urus aja diri lo sendiri,” urai Haryo Tantomo ditutup dengan tawa. 

Anda tidak perlu meragukan kesetiaan Aksiterror pada musik rock. Bukan sinisme yang diperlukan dalam menghancurkan dominasi musik yang kian banal. Pembangunan kerajaan rock dalam sekat industri yang kian tebal memerlukan tindakan nyata dengan karya. Band yang menerima pengaruh Motorhead, Lamb of God, Black Sabbath dan lainnya ini menyajikan musik rock layaknya siraman bensin yang mampu membakar lonjakan adrenaline.

 Sejarah dijalin secara perlahan medio 2001 atas dasar kecintaan dan kepercayaan terhadap musik rock dan heavy metal. Persahabatan berawal melalui perkenalan drummer Haryo yang akrab disapa Rio dengan Anto dan Jeri (additional bass) semenjak SMA. Sayang, vokalis Aksiterror saat itu memilih untuk hengkang. Berbagai gejolak sempat menghampiri. Jeri sempat keluar dari Aksiterror meskipun kini telah bergabung kembali sebagai additional. Anto sempat didaulat sebagai bassis, tapi kini telah kembali kepada fitrahnya sebagai gitaris.

Kamandika Yuda datang sebagai vokalis sekitar 2004. Yuda menjabat sebagai senior Rio di Fakultas Hukum Universitas Trisakti sekaligus vokalis band industrial rock, Jahat. Berawal dari diskusi side project “menjebak” Yuda menjadi vokalis Aksiterror. Jebakan itu bertahan lama didukung kesibukan personel Jahat hingga band itu mulai menampakkan gejala kematian. 

 Falsafah nama memiliki latar kisah kelam yang sempat menenggelamkan citra negara ini di mata dunia.

”Waktu itu zamannya WTC dibom. Kata ’aksi teror’ marak di Tv dan koran, ya udah kita pake aja. Yang ngasih nama tuh temen kita, namanya Soni dan Jeri. Filosofi dari gue sih, ’aksi’ itu kan bahasa Indonesia, menandakan kita itu orang Indonesia tulen.’Terror’ itu kan bahasa Inggris dan kita punya influence dari band-band luar negeri yang kebanyakan pake bahasa Inggris. Jadinya kita gabungin aja,” ujar Rio kemudian disambung Yuda,

”Kita mengecam dan menjadikannya sebuah nama atas dasar kekesalan aja sama banci-banci teroris yang mengatasnamakan agama atau apapun. Mengenai ejaan digabung sebenarnya cuman jati diri aja, biar beda dan sedikit melenceng dari EYD yang terkait. Aksiterror melambangkan kita berbudaya Sub yang juga melenceng dan sedikit menentang mainstream culture.”

 Tujuh lagu telah disiapkan untuk menampar dan membakar gelombang aksi liar tarian ritual pemuja rock. Divisi lirik tidak dikerubungi kata bersayap, melainkan berani bicara lantang. Inspirasi pun bertebaran mulai dari kontemplasi kehidupan pribadi hingga kritik kondisi sosial.

”Lagu ‘Stagnasi’ liriknya jadi disaat proses perampungan skripsi gue yang pada saat itu stagnan, nggak tahu mau gimana lagi, diam di bab 3 selama beberapa bulan karena eneg tiba-tiba sama skripsi. Bisa diartikan juga disaat gue lagi eneg sama hidup yang kayaknya masalah aja yang didapet terus.

‘Generator Anarki’ lebih ke perpecahan yang selalu terjadi dibarengi dengan perselisihan dan adu fisik hingga mematikan lawan yang sebenarnya adalah saudara sendiri.

Lagu ‘Aksiterror’ gue bikin liriknya disaat gue ngerasa yakin sama Aksiterror, lebih ke yang kalau gue mati, ya saudara-saudara gue di Aksiterror ini yang bakal menggendong keranda gue sampai makam. Intinya keyakinan gue terhadap persaudaraan Aksiterror. Kami nggak takut sama siapapun, kecuali Tuhan dan orang tua,” ujar Yuda yang mengagumi lirik-lirik Lamb of God. 

Singel “Belati” sempat menduduki peringkat pertama pada tangga lagu MTV Cutting Edge. Sementara “Stagnasi” mendapat predikat “Rekomendasi Unduh lewat MySpace di majalah musik, trax. Lagu-lagu itu pun berhasil mengacaukan barisan penonton dalam tiap aksi panggung, seperti di Parc, Stardust, Gor Bulungan, Bugs Cafe, News Cafe, hingga kampus Trisakti, Tarumanegara, Jayabaya, Moestopo, dan lainnya.

 Jumlah band yang telah tumbuh di Indonesia mencapai angka ribuan memacu kompetisi yang kian ketat. Butuh sentuhan bara untuk membangkitkan kejayaan musik rock menggeliat seperti periode emas yang sempat mencatat God Bless dengan penjualan hampir satu juta kopi. Aksiterror akan setia berjibaku di dalam jelaga industri musik meskipun genre rock masih dianaktirikan.

“Main musik bisa dapat kepuasan tersendiri melebihi apapun sampai saat ini. Waktu penonton ikut nyanyi lagu kita, merasa dihargai sepenuhnya sebagai seorang yang hidup, dan sedikit membelot dari norma yang ada lewat bermusik.Ternyata, sangat amat menyenangkan karena norma yang telah ada atau telah dibuat sebelumnya nggak semuanya berhasil buat gue, malah kadang terasa mengecam dan mengancam,” urai Yuda.

Mantan personel Pinball ini pun menambahkan, “Kalau gue pribadi nggak pernah menggantungkan hidup dari musik karena sama dengan siap-siap disetir aja kalo gitu.Itu menjadikan musik bukan sebagai hal yang menyenangkan lagi nantinya. Tepatnya, hidup gue buat Aksiterror, bukan sebaliknya dalam artian Aksiterror menghidupi gue.”

Angkat gelas kalian dan kita rayakan musik rock yang senantiasa mengekalkan kita muda, liar, dan terbakar. 

 
AKSITERROR are:
Kamandika Yuda (vocal)
Anto Dwi Heryono (gitar & back vocal)
Jeremiah Febrian (additional bass)
Haryo Tantomo (drummer)
   

CONTACT & BOOKING:
aksiterrormanagement@yahoo.com

http://www.myspace.com/aksiterror

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s