Anggun: The Visual Magician

Dimuat di Majalah Encore, Bandung

Suatu hari di tahun 2002. Seorang vokalis band indie, Bandempo, hanya ingin membuat videoklip untuk bandnya sendiri. Dengan dana terbatas ia mulai berkreasi. Boneka replika lima personel Bandempo dijahitnya seorang diri. Talent pun didapat dengan mengajak temannya, Rebecca Theodora. Dengan bantuan dari rekannya, Platon Theodoris (sutradara klip Naif, “Possesif”) dia men-direct videoklip pertamanya, “Pdkt 6 Bln”. Mungkin dia tidak menyadari itulah debutnya sebagai sutradara videoklip.

Sutradara, Anggun Priambodo

Saat pertama kali bertemu di kantor Mom Production, Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis siang (19/10), saya terkesan pada tutur bicaranya sangat halus dan suaranya yang lembut.. Pria berambut kribo yang akrab disapa teman-temannya dengan panggilan Culap, Sinyo, dan Badut ini berkacamata minus dengan kulit putih dan perawakan kecil. He looks like an ordinary guy.
Tapi, coba kilas balik pengalaman visual Anda beberapa tahun silam. Ada masa ketika videoklip Indonesia terasa begitu lesu. Tata cahaya yang sama dengan konsep performance clip sebagai alat pameran dagang. Kadang artis memanfaatkannya sebagai bentuk usaha menjual tampang. Membosankan.
Tiba-tiba, mata Anda tersihir oleh kekayaan warna dan kreasi khas yang out of the box dari klipper muda satu ini. You will be amaze with his work of art! Anda diajak menjelajahi komposisi dan irama dalam wujud bahasa visual musik eksperimental. Semangat avant garde menjadi napasnya. Meet The Visual Magician, Anggun Priambodo. And this is his story…

Pria kelahiran Trenggalek, 16 Mei 1977 ini terkesan pendiam.
Untuk ice-breaking, cobalah Anda bertanya tentang seniman yang menginspirasinya. Dia akan bercerita panjang-lebar tentang sebuah video art “The Way Things Go (Der Lauf der Dinge)” karya seniman Jerman, Peter Fichili dan David Weiss, dari mulai duduk hingga berdiri dengan semangat dan mata berbinar! Video art ini merupakan dokumenter yang sangat indah tentang sebuah struktur sepanjang 100 kaki terdiri dari berbagai perkakas rumah tangga di sekitar kita yang saling menimpa sehingga menimbulkan efek domino. Mirip videoklip The Bravery. Anggun menilainya sebagai the best video art yang pernah ia saksikan.

“Inspirasi itu bisa lu tuangin, bisa nggak juga. Tapi, bisa jadi trigger lu untuk berbuat sesuatu. Bisa dari karya orang lain, pengalaman hidup, lu suka apa di waktu kecil. Inspirasi itu datang dari sekitar lu,” tutur pria yang menghabiskan masa kecilnya di Ngawi, Lombok, dan Jakarta ini.

Latar belakang pendidikannya sedikit melenceng dari profesinya sekarang. Pria yang pernah mengikuti pameran di Shiseido Gallery, Jepang ini kuliah di jurusan Desain Interior Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Anggun tuh jiwanya seni murni. Dia lebih tertarik dengan hal-hal semacam itu daripada jurusannya,” ujar rekan seangkatannya di IKJ, Icha. Walau dia sadar bukan itu jalan hidupnya, Anggun berhasil mendapatkan gelar sarjana seni tahun 2002.

“Gue senang kerja yang ada musiknya. Sebelumnya sering bikin eksperimen media, ditambah musik, akhirnya jadi video musik,” cetus pengajar cinematografi untuk video musik di Digital Studio Collage ini.

Ada konsep dibalik sebuah ide. Tontonan audio visual dinilai menghibur ketika emosi penonton dapat tersentuh. Eksplorasi ide menjadi proses kreatif yang utama. Tapi, ide kreatif harus komunikatif dan tak hanya dimonopoli sang seniman. Bagaimanapun proses kreatif adalah perjalanan panjang yang harus dinikmati oleh sang kreator dan penontonnya.

“Gue nikmatin prosesnya dari nol. Mulai dari dengerin lagunya, sampai membayangkan visualnya. Lalu ‘kejadian’ karena lu nemu lokasi, model, dan ekspresi bandnya yang lu inginkan saat lu denger lagunya,” tutur Anggun tentang kecintaannya pada dunia audio-visual.

Ruang Rupa mengantar Anggun bertemu Henry Foundation aka Betmen dalam sebuah proyek video yang menjadi titik awal terbentuknya The Jadugar. Dalam workshop itu, Anggun, Betmen, dan David Tarigan (Aksara Records) membuat videoklip The Jonis. Kolaborasi Anggun dan Betmen pun berlanjut hingga mereka membangun The Jadugar. Momen itulah Anggun memutuskan untuk serius menekuni dunia videoklip.

“Magician”, itulah arti nama unik yang mereka dapatkan dari poster film India oleh-oleh teman mereka. Ide kreatif mereka lebur bersama tanpa peduli siapa yang mendapat ide duluan. Eksekusinya pun mereka atur bersama dibantu oleh Nana sebagai produser.

“Ngga ada deh kayanya pengalaman nggak enak sama Anggun. Mungkin dia yang gak enak sama gue. Soalnya gue telat mulu, suka bangun kesiangan. Anggun tuh disiplinnya tinggi,” kenang Betmen yang kini vokalis band elektronik, Goodnight Electric (GE), saat ditemui di studio rekaman GE di Ruang Rupa.

Kariernya dalam dunia videoklip mulai memasuki titik cerah ketika The Jadugar mendapat nominasi Best Video dari Indonesia MTV Music Awards 2003. Bahkan, mereka memenangkan penghargaan Best Director untuk videoklip “Train Song” dari band indie, LAIN. Tak heran, videoklip yang menceritakan perjalanan kereta mainan ini menghadirkan pengalaman visual baru di Indonesia. Kreasi unik ini berhasil mendobrak pakem videoklip yang ada saat itu.

“Kita dengerin satu album karena datangnya bukan dari mereka (The Jadugar yang menawarkan diri untuk membuatkan videoklip). Terus milih lagu mana yang mau dibuat videoklip. Gue suka aja lagunya. Kita cari lokasi mana saja yang akan dilewati kereta apinya. Terus, (kereta apinya) dijalankan pakai baterai. Langsung syuting live di situ selama tiga hari,” kenang Anggun.

Karier mereka pun melejit. Sesuai namanya, The Jadugar menyihir penonton Indonesia dengan sensasi visual yang berani menentang gaya mainstream. Sederet tawaran videoklip pun berdatangan dari band major seperti Clubeighties (“Lagu Terakhir”), Peterpan (“Yang Terdalam”), Slank (“Salah”), dan lainnya. Tapi, tak berarti tawaran dari band indie berbudget minim pun mereka tampik. Bisa dilihat, video kreasi The Jadugar yang minim dana tapi tidak minimalis! Videoklip “Alibaba” dari Boys are Toys malah diganjar penghargaan Favorite Creation pada Hello;Festival 2004.

Sayangnya, “sihir” mereka mulai tak sejalan saat pertengahan 2005. The Jadugar harus berpisah. Sulit untuk menjelaskan sebuah perpisahan kreatif ini. Tapi, sekarang dua kepala itu mulai berjalan sendiri dan tak lagi mengibarkan panji The Jadugar.

“Pertama, dia sudah berumah tangga, pasti kesibukannya beda. Kedua, saat itu Goodnight (Electric) sudah jadi banget. Ketiga, dia sendiri sudah mulai mencoba ke iklan. Memang lebih menghasilkan. Jadi, orientasi kita sudah berubah,” tutur Betmen.

Selain alasan tadi, Anggun memiliki pendapat lain.

Namun, berat bagi Anggun untuk mengutarakan alasan “bubarnya” The Jadugar. Hening terjadi cukup lama.

“Saat itu gue merasa Jadugar sudah seperti pabrik pencetak videoklip. Kalau lu nggak suka sama lagunya, jangan lu buat. Karena Jadugar ini idealis banget. Kayak dapat major lable, tapi hasilnya nggak optimal,”ujar Anggun dengan hati-hati.
Perpisahan bukan berarti tak berkarya bersama lagi. Proyek terakhir mereka pada klip “Child” dari Nidji. Betmen berperan sebagai asisten sutradara. Tapi, Anggun tidak menyatakan The Jadugar bubar karena suatu saat mereka bisa berkarya bersama lagi.

Pria yang menggemari nuansa vintage ini memiliki peran penting di scene indie. Dari tangannyalah banyak videoklip band indie yang cutting edge dihasilkan. Tapi,  perkembangan itu kini terhambat oleh batasan-batasan media. Nilai jual sang artis lebih utama daripada materi lagu. Akhirnya, mainstream lebih banyak menguasai. Dunia musik pun terasa stagnan karena komersialisasi yang bicara.

“Semenjak indie semakin sedikit, gw jarang nonton (tv).Musiknya gitu…membosankan semua! Itu lagi…itu lagi…bisa diputar selama beratus-ratus kali selama beberapa bulan. Ngapain ditonton? Nggak ada yang baru. Karena mereka sudah membatasi musik-musik indie. Karena musik indie paling rajin bikin videoklip. Akhirnya mareka kewalahan,” keluhnya tentang perkembangan videoklip saat ini.

Tidak hanya itu, dia mengeluhkan perkembangan dunia videoklip Indonesia yang tidak sejalan dengan kemajuan zaman. Seharusnya anak muda sekarang lebih maju dan berani berekspresi, lepas dari belenggu pakem masa lalu.

Anggun cukup aktif berkarya hingga saat ini, baik dalam membuat videoklip, iklan, hingga pameran. Bahkan, sekarang ia sedang menyiapkan diri untuk pameran kolaborasi di Toi Moi, Kemang, Jakarta. “Anggun itu motivator buat teman-temannya dalam berkarya. Dia selalu memberi semangat,” tutur sahabat Anggun, Icha yang hari perkawinannya berselang 3 hari dengan Anggun.

“Kalau sama Anggun tuh awalnya berdiskusi bareng terus tiba-tiba pasti jadi deh project-nya,” ujar personel Bandempo, Mateus Bondan, tentang proses berkreasinya dengan Anggun.

Pribadi Anggun juga seunik rambut kribonya. Berkhayal mungkin aktivitas yang menjadi energinya dalam berkarya. Anda akan amaze melihat “kemampuannya” ini. Anggun punya sederet impian yang menarik untuk disimak. Bahkan, dia punya model videoklip impian.

“Kayaknya seru kalau bikin video ‘Masa Muda SBY’, tapi dia yang meranin. Terus dia bilang,’Saya senang sekali nanti ajak saya syuting lagi ya…’Terus Jusuf Kalla nimbrung, ‘Jangan dia doang dong. Ajak saya dong, Pak Anggun.’Akhirnya jadi tren. Terus Sutiyoso ikutan. ‘Saya dong syuting di Busway’,” khayalnya sambil tertawa.

Anggun tidak pernah puas berkarya. Dia senantiasa ingin mewujudkan khayalan-khayalannya dan menyihir kita dengan warna dalam karyanya. Karena proses kreatif tidak berhenti sampai videoklip selesai. Anggun menilai semua karyanya mengesankan kerena prosesnya yang unik.

“Gue suka ngebayangin soundnya kayak gini, visualnya kayak gini. Walau kadang ngga berhubungan sih. Tapi, orang yang nonton akan dapat pengalaman lain. Selamat datang di pengalaman baru!” ujar Anggun.

Portofolio

2006          

–  White Shoes & The Couples Company – “Sabda Alam”
–  Nidji – “Child”

2005    

–  White Shoes & The Couples Company – “Sunday Memory Lane”
–  White Shoes & The Couples Company – “Windu & Devrina”
–  Agrikulture – “Underground Trash”
–  Naif – “Uang”
–  White Shoes & The Couples Company – “Senandung Maaf”
–  Peterpan –  “Diatas Normal”

–  The Adam – “Konservatif”
–  Goodnight Electric – “ASTUROBOT”
–  Debu – “Ucapkanlah Bersama”
–  Mocca – “I Would Never”

2004          

–  Goodnight Electric – “Am I Robot?”
–  Shiva – “Aku Yang Pantas”
–  Boys Are Toys – “Alibaba”
–  Mocca – “My Only One”
–  C’mon Lennon – “Aku Cinta Jakarta”
–  Seringai – “Akselerasi Maksimum”
–  Slank – “Salah”
–  Letho – “I’ll find Away”
–  Vena –  “Hilang”
–  Homogenic –  “Kekal”
–  BIP –  “Kuncianmu”
–  The Upstairs –  “Apakah Aku Berada di mars …”
–  Project Pop –  “Bau Bau Bau”
–  The Miskins –  “Hands Up”
–  The Brandals –  “Lingkar Labirin”

2003

–  Peterpan –  “Yang Terdalam”
–  Stereovilla –  “Peri Yang Bijak”
–  Tipe-X –  “Gombal”
–  Shakey –  “Ingin Sekali”
–  Ghetto G’s –  “Hujan”
–  Endank Soekamti –   “Bau Mulut”
–  Seven Six – Kompilasi Sony Music Indonesia
–  Naif –  “Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia”
–  Clubeighties  –  “Lagu Terakhir”

2002           

– Lain –  “Train Song”
– Bandempo – “Pdkt 6 Bln”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s