Backpackers: Kita Bukan Kikir, Tapi Pelit!

Dimuat di Karung Goni

Habis gelap terbitlah terang, habis ujian datanglah liburan!(buah jeruk buah delima, tulisan buruk jangan dihina-RedPantun) Yipee…senang riang. Setelah menanggung derita selama satu semester kita bisa melarikan diri dari dunia kampus (bukan program TVRI-RedPemirsa). Banyak hal yang bisa kita kerjakan untuk memanfaatkan waktu libur dengan maksimal. Bagaimanapun juga waktu libur pasti terasa lebih pendek dibandingkan dengan waktu kuliah. Berbagai pilihan bisa dicoba. Menjelajah kota yang belum pernah kamu kunjungi bisa jadi pilihan buat liburan kali ini. Are you ready to pack your bags? Let’s go!

Candi Ratu Boko, Yogyakarta, 2011

Pada prinsipnya menjadi backpackers itu hal yang mudah. Modal awalnya cuma butuh tas ransel (ransel…ransel…-RedDora). Ya iya atuhlah, secara namanya juga jadi backpackers. Jangan disalahartikan menjadi paket-paket punggung (jamak pake “s”-RedLulusan LIA). Backpackers itu salah satu metode (aih, bahasanya-RedSotoy) bepergian yang ringkas, praktis, dan murah meriah. Waw, kali denger kata murah pasti pada tergoda dong! (ah, masa? Ah,iya, gengsi dong!-Red80s)
Berbekal sebuah ransel, kalian bisa memulai perjalanan berkeliling kota. Seperti yang pernah saya alami dulu (curhat colongan nih ye-RedJayus). Barang-barang yang diisikan dalam tas sangat penting menentukan kelangsungan hidup kita selama dalam perjalanan. Jadi, kudu perlu perhatian khusus. Ok, saat mengisi ransel, jangan lupa barang pribadi (apalagi cowok berkepribadian; mobil pribadi, uang pribadi, rumah pribadi-RedJombloMatre).
Tujuan. Bepergian tanpa tujuan sih boleh-boleh aja, tapi kalau nyasar ke kandang macan kan nggak seru juga. Lebih baik tentukan arah dan tujuan (agar tetap berada di jalan yang lurus-RedDakwah). Kalau belum tahu mau kemana coba jalan-jalan dulu ke toko buku (loh?). Cari buku-buku tentang daerah wisata yang cihuy (nggak perlu beli, cukup numpang baca aja-RedPelit). Atau bisa juga browsing ke internet. Jangan nyari situs bokep mulu! Coba sekali-kali fungsikan Yahoo! Atau Google sebagaimana mestinya. Dari situ mungkin kamu bisa dapat ide mau pergi kemana. Banyak pula situs backpackers  yang memberikan informasi transportasi sampai penginapan murah.
Setelah tahu mau pergi kemana, kumpulkan segala informasi yang berkaitan dengan kota tujuan kita itu. Mulai dari daerah wisata unggulannya, kayak gunung yang terkenal, pantai yang paling banyak dikunjungi. Cari tahu kelebihan kota itu sedetail mungkin sampai tahu cara menuju ke lokasi idaman itu. Jangan lupa, cari yang paling MURAH! Ingat, kita bukan kikir kok, cuma pelit! Pelit adalah prinsip dasar backpackers. Kalian harus mendalami maknanya.

Setelah tahu tujuan, kalian juga bisa menetapkan mau menginap dimana karena anggaran transportasi sudah terbaca. Kalau masih ada modal gaya, boleh cari informasi hotel yang paling murah di kelasnya. Kalau nggak, buruan buka peta dan cari mesjid terdekat atau gunakan kemampuan komunikasi kalian untuk merayu penduduk setempat biar boleh nebeng bobo (cari jodoh pemuda lokal-RedKesempatan dalam Kesempitan). Bisa juga mencari kenalan dari daerah tujuan di internet dengan manfaatin MiRC, Friendster, atau My Space (sekalian ngajak kopi darat gitu…-RedJomblo).

Yang paling penting yang terakhir ini. Pergi! Jangan kebanyakan rencana akhirnya malah batal. Bulatkan tekad langkahkan kaki kalian mencapai tujuan (diiringi doa dan kekuatan mental serta fisik-RedBijak). Jaga kesehatan kalian agar nggak menghabiskan libur di rumah sakit. Periksa ulang semua yang dibutuhkan (biar nggak balik lagi padahal udah nyampe Papua-RedPelupa). Setelah mantap, langsung cabut!

Selama di perjalanan jangan melakukan gerakan yang mencurigakan. Nggak sedikit orang menganggap semakin besar tas, semakin banyak duitnya (padahal isi celana dalem doang-RedBokek). Waspadalah selama di perjalanan, tapi nggak perlu sampai parno juga (bisa parni atau paijo-RedJawa). Bisa-bisa saking takutnya malah nggak menikmati perjalanan. Santai aja,Cuy!

Urusan perut juga perlu mendapat perhatian khusus. Saat inilah waktu diet yang tepat. Gunakan masa-masa seret duit untuk menurunkan berat badan. Tapi, tetep jangan lepaskan kesempatan menyicipi makanan khas daerah. Cari juga alternatif makanan rakyat yang murah meriah, kayak nasi kucing di Jogja atau nasi Jinggo di Bali. Apalagi kalau bisa minta makan di rumah kenalan. Cihuy gratisan!

Menilik tempat hang out yang asyik juga patut jadi daftar pekerjaan. Misalnya nih cari tempat watersport yang asyik dan murah. Sering-seringlah bertanya pada orang setempat (jangan bertanya pada rumput yang bergoyang-RedBijak). Kalian bisa mengorek informasi lebih dalam tentang tempat yang sering dikunjungi anak muda setempat. Apalagi kalau ternyata ada acara khusus seperti festival musik atau kebudayaan. Jangan lupa cari hiburan yang gratis ajah!(bukannya pelit sih, tapi emang-RedNgeles).

Acara-acara seru yang diadakan di tempat kita berkunjung biasanya bisa diketahui dari pusat informasi untuk turis. Tempat ini dikelola oleh pemerintah daerah setempat untuk memberikan informasi bagi para pendatang dengan cuma-cuma (bisa digoreng atau dibakar nggak?-RedLaper). Kalau mau tahu acara pesta ceria coba pergi ke distro (loh?). Biasanya ada majalah gratis yang memberikan informasi pesta atau pentas musik di daerahnya, misalnya majalah Gigs di Bali. Cari pula majalah untuk wisatawan (yang gratis dong ah!-RedPelit). Biasanya di majalah semacam itu ada info tempat belanja, restoran sampai penginapan dari yang dollar sampai rupiah yang paling murah.

Terakhir, dokumentasikan! Udah pergi merantau jauh-jauh kalau nggak foto-foto, nggak asyiek gituu…Cari sesuatu yang menandakan daerah itu banget, misalnya, foto pake baju daerah atau di monumen. Coba datangi tempat yang menjual baju daerah. Pura-pura ajah mau nyoba baju atau tampak tertarik melihat-lihat. Pas nyobain baju, foto-foto deh! Kemudian, melangkah keluar dengan anggun dari toko seakan tidak berminat membeli baju (padahal mah emang bokek-RedNgeles Lagi).

Mengenai foto dengan baju daerah, penulis punya pengalaman yang serupa tapi tak sama. Ketika mengadakan lawatan ke Lombok, penulis dan kawan-kawan mencoba pakaian daerah di toko kain. Dengan menunjukkan wajah tertarik ingin membeli tentu penjual menganggap ini ajang berpromosi. Bahkan, bajunya bisa kami pakai buat foto-foto dari luar toko sampai ke rumah adat di depannya. Ingat, kesempatan itu datang tak terduga, manfaatkan selagi bisa!

Menjadi backpackers tidak membutuhkan keterampilan khusus. Melainkan hanya modal nekat dan komunikasi. Malu bertanya, sesat di jalan terbukti saat itu. Jangan lupa sebagai pendatang kita harus ramah pada orang sekitar agar kalau ada masalah bisa dibantu. Rasa percaya juga perlu agar tidak terus curiga pada semua orang yang memang tulus membantu. Tapi, tetap tingkatnya siaga 1 agar tidak ditipu. Sebenarnya menjadi backpackers lebih enak kalau bersama teman agar bisa patungan dan saling mengingatkan agar tetap waspada.

Sekadar Cerita : Perubahan Status dari Backpackers jadi Sidepackers

Saya sempat menjadi backpackers dengan rute Bandung-Jogja-Bali-Lombok-Surabaya. Pengalaman bertualang ini bisa menjadi cerita seru saat tua nanti. Walaupun lelah menggendong ransel, tapi ketika kita memijakkan kaki ke tempat tujuan yang kita inginkan semua rasa lelah itu hilang. Apalagi jika melihat pemandangan indah seperti ketika saya berusaha mendaki Gunung Rinjani di Lombok.

Tantangan yang terberat adalah ketika kita berpikir bahwa kesempatan berada di suatu tempat belum tentu bisa terulang lagi. Akhirnya, terjadi belanja besar-besaran baik membeli oleh-oleh untuk diri sendiri, maupun orang-orang. Perlu diingat juga, jika melakukan wisata seperti ini jangan terlalu banyak cerita pada orang lain. Walhasil, nanti banyak yang menitip oleh-oleh ini-itu padahal anggaran terbatas.

Saya pun dari hanya berbekal ransel atawa backpackers berubah status menjadi pembawa kardus juga alias sidepackers. Peristiwa ini diakibatkan terlalu banyak barang belanjaan (maklum perempuan-RedAlasan) sampai tidak lagi muat di ransel. Penampilan seperti ini juga mengundang datangnya calo tiket atau tukang angkat barang karena dikirain abis pulang kampung.

Peristiwa ini menyadarkan saya bahwa saya telah gagal menjalani filosofi backpackers. Lebih teliti dalam berbelanja dan usahakan sehemat mungkin (jangan mudah tergoda kenikmatan duniawi-RedBijak). Ingat, kita bukan kikir, tapi pelit! Tunggu apalagi? Pack your backpack and leave! Selamat berlibur!

Advertisements

2 thoughts on “Backpackers: Kita Bukan Kikir, Tapi Pelit!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s