Bagus Netral: “Menikah itu hal tersinting yang pernah gue lakukan”

Dalam wawancara ini, ada bagian2 off the record yang pastinja nggak saya masukin. Kalau versi ini nggak tahu yang sudah diedit atau masih raw. Enjoy… Dimuat di Majalah Rolling Stone Indonesia

BAGUS NETRAL

“Menikah itu hal tersinting yang pernah gue lakukan”

OLEH KARLINA OCTAVIANY

 

Vokalis serta basis Netral berbagi tentang kepala plontos, lagu pembawa sial, dan hal sinting lainnya

Bagus Danar Dhana (36) adalah pejuang yang selamat dalam pertempuran 15 tahun Netral di industri musik. Penggemar Black Sabbath, Iron Maiden, Judas Priest ini kini menikmati karier barunya sebagai Ayah dari Cakra Satya Dharma (Cadas). Wawancara ini pun terselip rengekan sang buah hati. Kesan sangar khas musisi rock rasanya jauh dari keseharian Bagus. The last man standing ini banyak mengisi perbincangan dengan tawa.

 

Vokalis band Netral, Bagus

Sebagai personil yang tersisa, bagaimana Anda menyesuaikan permainan dengan yang baru?

Gue selalu bilang sama Eno dan Coki, “Jangan keikut Bimo sama Miten, harus punya ciri sendiri.” Kalau gue, pengen menciptakan gaya gue sendiri. Sampai sejauh ini kita sudah ngeluarin empat album, gimana nggak adaptasi? (Tertawa)

Bagaimana Anda membangun kedekatan dengan kru hingga bisa melakukan lelucon yang ekstrim?

Kalau itu sih kita suka ngumpul bareng. Selama mereka kerja, lagi checksound, kita ngobrol bareng. Di luar itu, ngumpul bareng udah kayak temen aja. Nggak ada lu harus ngehormatin segala macem. Sama mereka sudah lama. Ada sebagian yang ikut Netral udah dari tahun ’98-an.

Ada nggak ritual ospek yang harus dijalani untuk jadi kru Netral?

Ritualnya yah ditelanjangin (tertawa). Ditelanjangin dan disiksa (tertawa). Tapi, yang terakhir ada dua kru yang paling sering disiksa. Emang mereka pelampiasan stress sebelum dan sesudah manggung (tertawa).

Lagu cadas apa yang sudah Anda perdengarkan untuk Cadas?

Banyak sih, kalau lagi di mobil atau di rumah. Gue justru lagi nggak dengerin yang cadas. Lagi new wave. Tapi, kalau di mobil justru Ibunya yang sering memperdengarkan Aerosmiths yang “Pumps”, gambar truk dua lagi kawin (tertawa).

Kalau anak Anda ingin membuat band pop yang menye-menye, apa reaksi Anda?

(Tertawa) Nggak apa-apalah yang penting jadi duit. Habis zaman sekarang mau idealis, nggak ada dong pemasukan (tertawa). Musik boleh idealis, tapi kantongnya jangan.

Mengapa sampai sekarang Anda mempertahankan berkepala plontos?

Karena kalau rambut gue ada, nanti jadinya lucu. Lebih sekarat dari Phil Collins yah (tertawa). Paling panjang bagian belakang, kayak brewokan gitu jadinya. Pengen sekali-sekali rambutnya digondrong atau digimbal. Memang rambut mahal banget. Satu helai, 20 ribu. Lu bayangin kepala gue segini, berapa rambut yang musti ditanam? Bisa sih numbuh. Tapi, yang depan lebih halus daripada yang belakang.

Apa pertempuran hati terberat yang pernah Anda alami?

Waktu gue kehilangan Bimo. Gue kepikiran, “Gue mau terus atau stop di sini aja Netral-nya?” Gue putus asa bener karena Bimo founder-nya yah, yang ngumpulin anak-anak. Gue ditinggal dalam posisi Miten lagi sakau-sakaunya. Gue juga bingung ngadapin Miten gimana? Gue harus berjalan sendiri. Tapi, akhirnya gue pikir Netral udah punya nama. Perjuangin Netral demi sense. Itu yang bikin gue semangat. Harus cari pengganti posisinya Bimo dulu.

Mengapa Netral harus tiga orang?

Tiga itu legenda (tertawa), The Police, Jimi Hendrix, Cream.

Apa Anda yakin Eno dan Coki tidak akan meninggalkan Anda?

Kalau untuk solo karier−mereka bikin band− selama nggak ganggu Netral sih nggak apa-apa. Kalau mereka ninggalin, kalau gue sih no problem yah. Paling cari lagi (tertawa).

Lima belas tahun bersama Netral, pernah terpikir bikin side-project?

Kalau gue bilang, Netral yang sekarang beda loh dari zaman gue sama Bimo, sama Miten. Massanya udah beda lagi. Banyak juga penikmat musik Netral bilang, “Eh, Netral yang sekarang beda sama yang dulu.”

Coki dan Eno pernah mengatakan kalau dinamika album ditentukan mood Anda. Komentar?

Kalau gue selalu mengalir terus. Musiknya Netral harus sesuai sama lagunya. Gue sama anak-anak kalau bikin lagu, masuk studio langsung bikin lagu. Ada juga yang Eno, “Gue punya chord neh.” Ambil not itu, kita tambahin, kurangin, kayaknya diginiin asyik. Kita nge-jam dan fun aja. Kalau menurut mood gue, gue sih mood terus (tertawa).

Musik Netral pernah ditolak tv karena dianggap terlalu keras. Komentar?

Sejak zaman Wa..Lah, mereka yang…musik rock penampilannya keras, muter-muter bikin pusing. Padahal kalau gue bilang, ada yang lebh keras lagi (tertawa). Mungkin ada sebagian orang di televisi yang nggak suka musik rock. Sukanya musik pop yang dibalut distorsi, baru dibilang, “Ini baru musik rock!” Pop yang sekarang ini.

Apa musik rock tidak menjual?

Mungkin mereka berpikir begitu, peminatnya kurang. Kalau menurut gue, nggak juga sih. Karena gue pelakunya (tertawa).

Netral pernah mengatakan 70% musik Indonesia adalah pembodohan. Lantas apa yang bisa dilakukan Netral untuk mencerdaskannya?

Kalau gue bilang lebih mendidik. Kita jangan balik ke belakang. Kayak band sekarang, bukannya gue ngejelekin. Tapi, berbalik ke masa dulu zaman lagu yang cengeng-cengeng. Itu kan nggak boleh, dilarang. Sekarang kok balik ke dulu lagi? Sekarang, musik Indonesia udah bagus. Start-nya mulai bagus ada band-band indie mulai maju. Ada band yang diambil sama major, tapi musiknya yah lu tau sendirilah. Gue sih nikmatin lagunya bagus. Cuma kalau gitu kan musiman, nggak bertahan lama. Kita nunjukin sesuatu yang lain, di luar yang sudah ada. Nggak mengulang yang dulumenye-menye gitu.

Apa album yang selalu Anda rekomendasikan ke orang lain?

Albumnya Netral untuk saat ini. “Keren loh album gue, beli ya!” (tertawa)

Lagu yang paling susah dibawakan?

“Terompet Iblis” tuh percaya nggak percaya, beberapa kali kita bawain itu jadinya lagu pembawa sial. Abis main lagu itu, gitarnya Coki mati, bass gue mati atau putus senarnya. Yang di Padang lebih kacau lagi, abis main “Terompet Iblis”, badai! Wah, udah deh, nggak usah bawain lagi lagu itu (tertawa).

Bagaimana Anda membayangkan diri Anda 20 tahun mendatang?

Makin tua yah, makin keriput-keriput. Makin lupa lagunya (tertawa). Soalnya gue kadang-kadang, “Ini lagu yang ini, gimana main chord-nya yah?” “Ini liriknya gimana?”

Pernah berhenti menyanyi di stage karena lupa?

Jarang sih, paling gue ulang lagi kata-katanya. Atau paling gue, “Abuyaabuyaa”. Jadi, ngasal aja. Atau yang pada saat itu yang gue dapet, ya itu gue jadiin (liriknya). Penonton sudah terlanjur senang. Sebenarnya tanggungjawab juga ke penonton. Paling cuma Eno sama Coki aja yang ketawa, “Tadi lu salah yah?” Chord-nya juga suka lupa. Secara gue harus bagi dua antara nyanyi dan main bass.

Guilty pleasure Anda?

Gue penikmat musik pop sih.Tapi, cuma denger di videoklip di tv. Yah, lagunya Radja, Tahta, Kangen (tertawa). Kalo gue sih cuek aja (tertawa). Kemarin anak-anak waktu diwawancara di Hardrock FM bilang, “Nih, si Bagus penikmat musik pop.” “Lu nggak malu, Gus?” Nggak lah, orang gue suka (tertawa). Peterpan bagus, Kangen Band bagus. Nikmatin lagunya aja, cuma selewatan.

Anda pernah duet dengan Inul Daratista, pendapat Anda tentang dia?

Wah, iya dong. Inul gitu loh! Pada waktu itu gue nggak tahu Inul itu siapa. Hayo ajalah, mumpung masuk tv. Bangga juga. Waktu itu baru pertama kali acara “Duet Maut”-nya Inul. Abis itu baru ke lainnya. Berarti gue yang duluan dong (tertawa).

Netral kan tidak pernah meledak sampai jutaan kopi, pernah terpikir mencari karier sampingan?

Pernah kepikiran, tapi belum terealisasi semua. Dulu sih sempet lihat, pengen bikin distro kayak Eno. Pengen bikin tempat makan, atau warung kecil-kecilan.

Saya pernah bertemu Anda di Dufan. Apa permainan yang paling Anda takuti?

Gue trauma banget naik bianglala, dulu. Waktu Taman Ria yang dulu banget yang di Monas tuh, gue sempet minta turun pas naik itu. Tapi, sekarang? Wah, berani, udah jagonya! Tapi, waktu ada syuting sekarang, kita bertiga nggak berani naik “Tornado”(tertawa). Gila, serem banget diputer-puter!

Punya fobia?

Gue paling geli sama reptil; ular, kodok. Geli aja ngeliatnya.

Apa hal tersinting yang pernah Anda lakukan?

Hal tersinting yang pernah gue lakukan, kata Istri gue, menikah (tertawa).

 

MY LIST

Lagu yang didengarkan waktu kecil?

Kakak gue ada dua, yang satu dengerin Beatles, yang satu Rolling Stones. Jadi, gue dengerin itu.

Lagu yang pertama kali dinyanyikan di depan umum?

Lagu Judas Priest “Breaking the Law”. Itu acara SMA.

Album favorit dari Netral?

Dua sama tiga. Pada saat itu bikin yang kayak gitu aneh aja. Pakemnya beda dengan musik yang ada di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s