MEMBURU MELODI KENANGAN

Dimuat di Executive News

Segera lupakan khayalan Anda menemukan mesin waktu. Mari merayakan kembali masa muda lewat sebait lirik, sebuah lagu, dan sesosok kaset dari masa lalu.

Toko kaset antik, DU 68, Bandung

Masa depan mungkin saja tidak pasti ada. Namun, siapa manusia yang tidak memiliki masa lalu? Kenangan masa lalu bisa datang dari mana saja. Salah satunya lewat musik. Kehadiran musik bisa menjadi pengiring langkah kehidupan. Alunan lagu mampu menjadi teman Anda menikmati tawa, memadu kasih, melupakan luka hati, dan mengusir duka lara.
Sejarah rekaman musik Indonesia ditorehkan sekitar awal abad 20 ketika semangat nasionalisme berkobar dalam meraih kemerdekaan. Pencarian identitas bangsa pun berlangsung hingga ke ranah musik yang mewakili suara Indonesia. Kaum nasionalis pun mencetuskan kroncong yang diadaptasi dari Barat. Musik Indonesia pun semakin bergairah ketika pemerintah menyatukan rekaman musik tradisional dan pop nusantara dalam institusi yang didukung perusahaan rekaman nasional cabang dari Departemen Informasi sejak tahun 50-an, PN Lokananta.
Kehadiran piringan hitam mulai tergantikan saat teknologi rekam dengan kaset masuk ke Indonesia pada 1960-an. Akibat kesejahteraan dalam sektor minyak, booming kaset dipanaskan dengan longgarnya birokrasi impor tape dan alat perekam pada era 70-an. Kehadiran kaset top hits dari Monalisa Stereo Cassette yang menggunakan sampul berwarna kuning dengan ornamen sederhana sudah menyuguhkan kualitas suara dolby stereo. Kaset top hits sejenis juga meramaikan dengan rilisan Atlantic Record, Billboard, dan Contessa Musicassette Stereo yang laris di pasaran.
Medium kaset mampu merangkul berbagai kalangan dengan jangkauan wilayah yang luas hingga ke desa. Alat pemutar kaset juga relatif mudah dijangkau dengan harga yang ekonomis. Musik populer menjadi idola, mulai dari pop Barat, Indonesia, hingga daerah. Jakarta hadir sebagai pusat produksi rekaman, percetakan, distribusi, dan markas musisi nasional. Popularitas kaset secara tidak langsung mengangkat musisi pop nasional maupun daerah. Eksistensi kaset makin menggeliat. Bahkan, Industri kaset di Indonesia sempat disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.

Waktu berlalu, musisi pun beregenerasi. Kaset penyanyi lawas pun menjadi barang yang sulit ditemui. Kaset tersebut sudah tidak diproduksi lagi, hilang di pasaran dan menjadi barang langka. Lantas, dimanakah kaset tersebut berlabuh?

Cihapit

Sebuah jalan lebar dihiasi pepohonan rindang di Bandung. Toko-toko barang loak tampak berjejer. Bukan pemandangan mencolok. Tapi, hanya sekadar lapak atau kios. Namun, coba Anda teliti lebih jelas. Deretan kaset akan menggelitik rasa penasaran Anda. Bukan sembarang kaset yang banyak beredar di toko musik terkemuka. Tapi, kaset-kaset antik akan menggali memori. Jalan fenomenal itu bernama Cihapit. Tempat ini sudah jadi wahana perburuan wajib bagi para kolektor kaset antik. Jangankan kaset, cakram padat (CD), laser disk, hingga piringan hitam pun ada di sini. Tak perlu bingung, pedagang di Cihapit juga menjual alat pemutarnya.
Bandung memang menyimpan berbagai tempat yang menarik perhatian penggemar musik. Sejak tahun 70-an, kawasan Cihapit dikenal sebagai sentra penjualan barang-barang bekas. Pada mulanya Cihapit menawarkan baju bekas. Setelah H. Ondy merintis berjualan kaset di sini, maka tempat ini pun berkembang menjadi bursa musik antik. Salah satunya kios milik Edwin Suwandi yang menyimpan beraneka album musik langka.
“Orang Bandung kayak akan jiwa seni. Banyak musisi yang lahir di Bandung. Bandung disebut ‘gudang musik’. Orang seperti ini pasti akan lari ke pasar Cihapit,” ujar Edwin yang sudah berjualan sejak 1992.
Tapi, tidak berarti penjualan di Cihapit selalu meroket. Badai krisis moneter sempat membuat Cihapit lesu. Pembeli lebih mengedepankan kebutuhan primer dibanding hiburan semacam musik. Stok barang tertahan di kolektor dan tidak beredar di pasaran. Akibatnya, mendapatkan barang untuk dijual pun sulit. Pasar pun makin jenuh berhadapan dengan koleksi yang sama. Sedikit yang dapat bertahan meskipun terseok-seok.

Pedagang di Cihapit pun menyusut dari 12 menjadi 8. Hanya kecintaan pada musik yang membuat Edwin mampu bertahan. Edwin juga memiliki trik rahasia untuk mengabulkan permintaan pembeli. Permintaan sesulit apapun pasti Edwin punya cara menemukannya. Seperti ketika turis berkebangsaan Australia yang sengaja datang mencari Edwin untuk membeli alat pemutar piringan hitam yang antik, gramaphone. Meski langka, Edwin berhasil mendapatkan barang untuk dijual sesuai permintaan pembeli. Sekarang, Edwin merasa badai pelahan menyingkir. Penjualan di bursa musik antik Cihapit pun kembali bergairah. Pembeli yang berdatangan bisa mencapai 100 orang dalam sehari.

Cipaganti

Beralih dari Cihapit, di tengah keramaian lalu-lintas persimpangan Jalan Cipaganti dengan Cihampelas juga menyimpan beragam koleksi unik. “Alumni” Cihapit sekitar tahun 90-an, Hendrix hadir di Jalan Cipaganti no 75 B dengan toko dengan luas sekitar 20×10 meter. Deretan kaset berjajar rapi dan disusun dengan katagorisasi sesuai genre musik dan alphabetikal. Berbagai alat pemutar kaset hingga piringan hitam dipajang untuk mengungkit nuansa nostalgia. Hendrix hijrah ke Cipaganti hampir dua tahun. Mantan karyawan radio GMR ini ingin meraih khalayak yang lebih luas. Hendrix pun menyimpan harapan agar koleksi musiknya bisa menjadi referensi berharga bagi musisi muda.

“Generasi berikutnya di musik tidak berjalan dengan idealisme yang kalap atau komersialisme yang kalap. Tidak punya panduan, berangkat dengan keyakinan masa muda yang belum kaya nuansa. Kalau ada buku yang menulis tokoh musik lama, menyimpan karya mereka, rasanya banyak hal yang dipelajari generasi baru,”ungkap Hendrix

Pria yang mengoleksi kaset sejak 1976 ini menilai Indonesia sangat buruk dalam dokumentasi. Banyak album yang dicetak terbatas dan tidak dirawat. Padahal cetak biru musik bangsa terdapat di sana. Menurut Hendrix, radio seharusnya berinisiatif untuk mendokumentasikan album tersebut dalam format digital. Hendrix pun menyayangkan betapa miskinnya literatur tokoh musik Indonesia. Padahal musisi masa lampau sangat mengedepankan idealisme hingga banyak yang mati miskin dan hidup merana, seperti Gombloh. Sudah sepatutnya karya musisi legendaris Indonesia dijaga agar dapat diperdengarkan pada generasi mendatang.

Hendrix mengawali kariernya di bursa musik antik sebagai kolektor. Tanpa disadari, koleksinya sudah mencapai belasan ribu. Akhirnya, Hendrix pun memulai bisnisnya dengan menjual koleksi miliknya. Namun, ada satu album yang selalu dia beli, Badai Pasti Berlalu. “Album wajib. Lagu bagus, secara musikal revolusi musik. Konsep musik kaya, berani tampil beda. Walau Chrisye belum berpenghasilan lebih,” ungkapnya penuh semangat.

Anda tidak perlu mengkhawatirkan harga. Kaset Barat dijual seharga Rp. 15.000 dan kaset Indonesia Rp. 12.500. Harga plat dibuka dengan Rp. 25.000 dan CD berkisar Rp. 40 ribu- 50 ribu. Tapi, untuk level antik tidak dipajang di toko. Silahkan Anda langsung tawar-menawar saja. Hendrix pun memberikan garansi 3 hari. Pembeli dapat pula menukar koleksinya appabila sudah bosan.
Arus teknologi menggeser kehadiran format fisik. Format digital menjadi idola baru karena lebih praktis. Tapi, kehadiran bajakan paling memukul kelangsungan industri musik tanah air. Serangan ini berpengaruh pada penjualan album nostalgia.

“Trennya sudah lewat, dengan uang bisa beli CD bajakan. Generasi sekarang lebih akrab dengan digital. Masa emas bisnis ini sudah lewat,” ujar Hendrix.

DU 68

Bergeser ke dekat kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), Jalan Dipati Ukur menyimpan koleksi historis dari Irham Fikri. Sekitar 1993-1994, Irham kuliah sambil bekerja sambilan menjual kaset di kaki lima di daerah Unpad dan Insititut Teknologi Bandung (ITB). Awalnya, Irham hanya menjual 50 kaset. Ternyata, laris. Melihat prospek yang baik, Irham pun rajin menyambangi pasar yang menjual album musik bekas seperti di Cihapit dan Cikudapateuh. Keberhasilan Irham mengantarnya untuk membuka toko bernama DU 68.
Koleksi DU 68 mencapai 10.000 kaset dan 100 piringan hitam. Beberapa tahun yang lalu, Irham berkeliling Jawa untuk membina jaringan agar mudah mendapat barang. Irham membina hubungan dengan pedagang di daerah Bekasi, Jakarta, Jogjakarta, Malang, dan Surabaya. DU 68 juga konjungasi barang dengan label musik independen.
“Kalau sekarang, kita udah enak kalau sekarang yah. Kita tinggal duduk doang isilahnya. Udah terkenal. Jadi, kita tinggal diam aja yang nganterin barang banyak,” ujar Irham.

Menawarkan barang orisinal bisa memberikan edukasi masyarakat dalam mengapresiasi karya seni. Karya musik dapat menjadi penentu ciri khas zaman. Musik yang Anda dengar saat ini dapat menjadi sejarah untuk masa depan. Tentunya, selama industri musik Indonesia tetap berkibar. Ketika akses mendapatkan album musik dipermudah dengan kehadiran bursa musik antik, masihkah Anda melupakan makna sebuah karya dan membeli bajakan?

Advertisements

10 thoughts on “MEMBURU MELODI KENANGAN

  1. Aku suka karena ada yg melestarikan musik2 lama, kayaknya nggak bakal pudar, semoga tetap jaya musik lama, sederhana tapi indah melodinya….kami menikmatinya.

    1. Iya, rata-rata semangatnya memang mendokumentasikan musik Indonesia. Sekaligus jadi hobi dan penghasilan. Sekarang ada gerakan pelestarian musik lawas dengan #SaveLokananta di Twitter 😀

  2. di perempatan lampu merah sebelum masjid cipaganti ke kanan arah cihampelas ada penjual kaset2 lawas. cuma koleksinya lumayan banyak. saya beli tadi.

  3. waktu kuliah dulu saya punya kaset “mandoline serenade” yg direkam oleh Contessa cassete stereo…ingiiiinnn sekali saya punya kembali kaset itu..musiknya bagi saya amat luar biasa..dan ada kenangan maanisss..disana..siapa yg masih punya ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s