RAYUAN PULAU DEWATA

Dimuat di Majalah ROLLING STONE Indonesia, Januari 2009

Inilah potret jambore musikal dari putra daerah Bali, bukan barisan anak pramuka

Navicula membawakan “Aku Bukan Mesin”

Tiga puluh enam derajat Celcius panas matahari sanggup menusuk punggung Anda saat berdiri di tengah Stadion Ngurah Rai, Jl. Melati Denpasar, Bali. Dua buah panggung berjajar mengarah ke barat. Panggung tersebut dilatari big screen dan TV di bagian tengah. Satu panggung kecil terpisah untuk musik klinik. Dengan konsep “Dari Bali untuk Bali”, acara bertajuk “ A Mild Live Production Bali Jamfest 2008” berlangsung selama dua hari menyuguhkan 14 artis solo, 1 trio, 35 band, kompetisi 10 band, 2 set Bleganjur (gamelan), marching band dan tarian tradisional. 

”Seperti ‘Soundrenaline’ mini deh, hanya ini pemusik-pemusik dari Bali. Pemusik Bali yang dari Jakarta seperti Balawan, Budjana, Tri Utami pada datang ke sini,” ujar Manager Public Relations PT HM Sampoerna Tbk, Yudy Rizard.

Acara ini bukan pertama kalinya hadir di Bali. Acara Bali Jambore Music Festival ini pernah diselenggarakan tahun lalu walau gaungnya belum sekeras sekarang. Tapi, Bali Jamfest kali ini berusaha menarik perhatian media. Menurut Pregina Enterprise selaku promotor, penonton tahun lalu mencapai 12.000 orang.

Pembukaan acara dilakukan dengan pelepasan burung merpati oleh perwakilan pemerintah dan desa adat. Perizinan acara di Bali senantiasa melibatkan polisi dan pemuka adat. Keduanya menempati kedudukan yang sama penting hingga tidak bisa diabaikan. Inilah keunikan Bali, sebuah percampuran mesra tradisi dan modern.

Perkawinan musik modern dengan bahasa Bali pun dilakukan dengan baik. Musik rock berpadu dengan lirik bahasa Bali tercermin pada Nanoe Biru dan XXX. Raggae mebasa Bali malah sudah menjadi ciri khas dari Joni Agung& Double T. Bahkan, pop Bali memiliki kumpulan penggemar tersendiri di Bali. Pop Bali memiliki irama khas seperti musik Mandarin. Tema yang diangkat kebanyakan tentang cinta.

”Kalau bicara band berbahasa Bali, cuma musiknya modern. Dia bisa produksi album malah sampai 100.000 kopi seperti Lolot. Untuk manggung lumayan kencang, bikin-bikin konser di daerah. Sementara musik indie idealis memang mengawinkan visi –misi itu. Akhirnya dengan panggung seperti inilah bisa satu, semua sama, punya visi-misi yang sama untuk memajukan industri,” ujar direktur utama Bali Music Channel, Agung Bagus Mantra.

Acara ini bertujuan memberikan kesempatan dan penghargaan kepada para musisi Bali yang berbakat, agar nantinya dapat berkiprah di kancah musik tanah air. Hari pertama (5/12) menyajikan banyak band beraliran rock. Dua duta musik yang identik dengan Bali, rockabilly, dibawakan dengan atraktif oleh Suicidal Sinatra dan The Hydrant. Saat lembayung menguasai langit, Farabi menduduki panggung kecil sebagai wadah klinik musik. Penonton terlalu menikmati musik hingga lupa berdiskusi.

Ed Eddy& Residivis sepakat mengenakan kemeja ala tahanan malam itu. Mereka juga menyuarakan kebebasan berekspresi dan tentunya tidak membawakan lagu ”Anjing” yang hampir menyeret mereka ke hotel prodeo. Sebagian besar musisi Bali malam itu mengemukakan protes terhadap pemberlakuan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi, UU APP, yang dianggap membatasi kreativitas dan keragaman budaya.

”RUU APP saja dilaksanakan. Kita tidak pernah mengalami masa tahanan. (Album) itu adalah album pertama yang tersendat. Lagu ’Anjing’ kami ganti dengan ’Lagu Kita Orang Indonesia’. Lagu itu menjadi anthem song setiap sidang dimulai. Lagu itu (’Anjing’) akan kami rilis kalau Indonesia benar-benar merdeka (tertawa),” ujar Eddy.

Tidak hanya hadir selaku promotor, Bagus Mantra menunjukkan kepiawaiannya bermain drum. Pregina Enterprise yang dipimpinnya memiliki berbagai macam usaha. Salah satunya ialah studio rekaman yang menelurkan album Balawan dan Dewa Budjana. Pregina menjadi bagian dari Bali Creative Community.

“Kalau bicara komunitas kreatif, saya bicara musik dulu. Musik merupakan media kreatif di Bali, fokusnya generasi muda. Impian kami membuat event kolosal ini jadi komunitas musik di Bali dari dulu memimpikan main bersama di panggung yang besar, crowd yang besar, dan ada penyelenggara atau volunteer yang mau fokus buat event seperti ini. Tercetuslah Bali Jamfest yang sudah kita bikin untuk kedua kalinya,“ urai Bagus.

Jika di Bandung ada ”Helarfest”, maka Bali memiliki ”Bali Creative Power”. “Bali Jamfest 2008” menjadi rangkaian dari ajang pengembangan industri kreatif di Bali tersebut. Gerakan ini melihat gelagat pemerintah yang berniat mendeklarasikan Tahun Indonesia Kreatif pada Desember tahun ini. Mengutip dari MBM Tempo edisi 24-30 November 2008, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menunjukkan sinyalemen pemerintah untuk memfasilitasi ekonomi kreatif.

”Sebenarnya Bali kalau saya pikir, industri kreatif Bali tidak dikampanyekan. Bali kan termasuk gudangnya seniman di Indonesia; ukir, lukis, patung, tari. Sejak booming pariwisata, Bali menjadi salah satu sentra industri kerajinan. Kartun-kartun di Jepang itu banyak yang digambar di sini. Karena di sini orang bisa gambar cepat. Cuma mereka jadi pekerja, bukan kreator,” urai vokalis band grunge Navicula, Robi.

Bali mempersiapkan diri dengan menggelar serangkaian seminar dan workshop dengan konsep ”Merayakan Kreatifitas yang Mencerahkan”. Mereka mengundang Bandung Creative Community dan British Council untuk berdiskusi mengenai industri kreatif. Bahkan, ajang ini menghadirkan desainer grafis dan tipografer terkemuka, Stefan Sagmeister yang pernah mendesain sampul album Rolling Stones, Aerosmith, Lou Reed, dan David Byrne.

”Dengan adanya forum seperti ’Bali Creative Power’, yang muda-muda terutama semakin dipacu. Karena sektor industri kreatif ini dapat dijadikan penopang industri pariwisata yang sama kuatnya di Bali. Industri eco di Bali kuat sekali. Kebijakan-kebijakan lokal untuk produk seperti ini ada. Harta karun kebudayaan kita ini,” urai Robi yang sempat menjadi moderator diskusi ”Bali Creative Power”.

”Dari musik sendiri, Bali sudah mampu membuat industri baru yaitu band beserta elemen-elemen musik di sekitarnya. Bukan sekadar musik saja. Banyak anak muda yang sudah menghasilkan duit dengan jadi penyablon merchandise, membuat stiker. Lalu selain musik, juga ada yang naik daun, industri tato. Itu nggak jauh-jauh dari style anak muda sekarang,” tutur drummer Superman is Dead, Jerinx.

Pengembangan sebuah industri yang baru menapaki rimba perekonomian dunia ini perlu dukungan yang sangat besar dari pemerintah dan masyarakat. Riset yang dilakukan pemerintah menunjukkan enam persen dari produk domestik bruto, sembilan persen dari ekspor, dan lima persen penyerapan tenaga kerja berasal dari usaha kecil-menengah yang melingkupi industri kreatif.

”Kalau Wi-Fi di Indonesia dimana-mana gampang, pasti bisa. Susah nyari hot spot di Bali. Itu kendalanya di Bali, tidak seperti di Yogya, Jakarta, Bandung. Di Bali masih susah. Jadi, anak muda masih tersendat. Sekarang IT itu sangat menunjang. Di mana-mana kalau di Bali itu sudah ada hot spot, tapi tidak free (tertawa). Harus beli minum, baru dapat password di kasir,” ujar Eka dari Superman is Dead.

Malam itu Superman is Dead menutup gelaran ”Bali Jamfest 2008” hari pertama. Tiket hari itu terjual sebanyak 4.500. SID tampil seusai band rock berbahasa Bali, Lolot. Untuk urusan musik, Bali dikenal akrab dengan musik keras. Apalagi rockabilly kian merajai musik di Bali. “Bali Jamfest” pun banyak menyuguhkan band rock, seperti Parau yang malam itu dinobatkan sebagai Best Spokeperson of Bali Jamfest karena pesan positif dalam aksinya. Bagus berpendapat kecenderungan ini disebabkan kecintaan masyarakat Bali pada musik yang dinamis. Gamelan Bali saja disajikan cepat sehingga jauh dari kesan musik tradisional yang menimbulkan kantuk.

”Topik saya (dalam seminar berjudul)’Mengapa Kultur Heavy Metal Bisa Diterima di Bali?’ Gamelan Bali itu mainnya cepat, banyak triplet. Nadanya mirip progresi pentatonik heavy metal Eropa. Kedua, kreasi patung di Bali, patung, topeng, penjaga pintu di Bali, banyak yang seram-seram, bertaring. Lihat saja merchandise metal! Karakter iblisnya kuat. Ketiga, di Bali ada tiga warna sakral namanya Tri Datu; merah, putih, dan hitam. Itu warna di metal. Pentagram-pentagram klasik banyak dibuat dengan warna marah, putih, hitam. Budaya Bali kental dengan semangat animisme dan dinamismenya, percaya pada roh-roh, spirit-spirit bisa berpartisipasi di kehidupan manusia. Dunia metal lekat, ada dewa-dewanya; Lucifer, demon, spirit, naga, ksatria (tertawa),” papar Robi berteori.

Dewa Budjana membawa nuansa lain malam itu. Bersama Nyanyian Dharma, Budjana mengantar nuansa syahdu. Nyanyian Dharma merupakan album rohani Hindu yang digawangi Budjana melibatkan Sutha (alumnus AFI), Ayu Laksmi (nominee pemeran utama wanita terbaik FFI 2008), Dek Ulik (disebut Budjana sebagai diva pop Bali), Gus Angga. Ayu Laksmi menari dengan sangat indah sambil membawakan lagu ”Trikaya Parisuda”. Tri Utami yang bukan berasal dari Bali membawakan lagu ”Karma” yang terdengar magis. ”Antramku” dan ”Tat Twam Asi” disuguhkan secara medley oleh semua artis Nyanyian Dharma. Sayang, beberapa kali mikrofon mengalami kendala teknis saat menyanyi bersama.

”Nyanyian Dharma ini sebuah cermin kerukunan antarumat beragama. Berlainan kepercayaan, tapi dalam berkesenian kita bisa saling bantu-membantu, saling memberi dukungan,” ujar pemeran utama film besutan Garin Nugroho Under the Tree, Ayu Laksmi.

”Dari awal tahun 1998, niat buat album itu buat menyumbang karya saya. Kami terbentur masalah produksi rekaman, harus cari duit. Tapi, setelah itulah album itu dijual buat bikin album berikutnya lagi. Yang terlibat nggak ada yang dibayar, termasuk Maya Hasan, Indra Lesmana. Semua teman-teman membantu mungkin karena melihat kontribusi saya di album Ramadhan. Rencana yang ketiga ini mau cetak CD untuk disumbangkan ke pura,” urai Budjana.

Meskipun berawal dengan niat baik, tapi distribusi Nyanyian Dharma tidak berjalan mulus. Album pertama disebarkan dengan menitip ke pura dan toko musik. Namun, ternyata tidak ada yang menyerahkan pembayaran. Album kedua yang diedarkan oleh Sony BMG pun bernasib buruk. Budjana berniat menjangkau pasar nasional. Tapi, album tersebut malah sulit ditemui karena bermasalah dengan permintaan toko.

”Kalau album pertama berupa kaset. Saya belum tahu kalau lewat label waktu itu. Karena semua yang terlibat nyumbang, kalau ke label berarti dia nyari uang. Janganlah ke label, kita sudah susah-susah, mereka nyari duit,” ujar pria yang termasuk pahlawan gitar nasional versi Rolling Stone ini.

Gitaris Gigi ini kini lebih menikmati peredaran album secara independen. Selepas Gigi dari Sony BMG, Budjana akan menikmati jalur independen untuk album solo. Budjana sedang mempersiapkan langkah selanjutnya untuk Nyanyian Dharma mengingat peredaran album sebelumnya tersendat. Ia belum memutuskan mengeluarkan album baru atau repackage. Budjana juga menilai Jamfest tahun ini terselenggara lebih baik. Sorotan media luar Bali pun dirasakan lebih besar. Ajang ini juga membuat Budjana menemukan talenta baru di dunia musik Bali.

”Saya sih nggak banyak, tapi beberapa yang saya dengar sebelumnya kayak Lolot, Nanoe Biru, pop Bali, yang indie-indie banyak saya dengar. Kaget juga lihat kayak tadi, bagus banget. Yang itu yang saya nggak pernah lihat dulu. Yang dulu yang rada major dulu,” ujar gitaris asal Klungkung ini.

Tidak hanya Budjana, Bali juga menghasilkan gitaris berjemari ajaib bernama Wayan Balawan. Peran Balawan pada ”Bali Jamfest 2008” hari kedua (6/12) sangat dominan, mulai dari juri festival rock di awal acara, memberikan guitar clinic, hingga tampil bersama Batuan Etnik pada malam hari.

”Acara ini betul-betul idealis. Jadi Bagus Mantra betul-betul berniat untuk memajukan musik di Bali. Dukungan sponsor juga luar biasa,” ujar gitaris yang sudah akrab dengan musik sejak umur delapan tahun.

Sulit menutup mulut Anda ketika menyaksikan jemari Balawan mempermainkan fretboard hingga tidak berbunyi selayaknya gitar biasa. Penonton klinik gitar pun hanya mampu terpesona hingga tidak mampu berkata-kata, apalagi bertanya. Akhirnya, Balawan sendiri yang membuka rahasia alatnya. Di tangan Balawan, gitar laksana manusia yang mampu berdialog dengan drum dan bass. Setiap gerak-gerik tangannya hanya mengurai decak kagum.

Balawan membentuk Bali Guitar Club yang hadir menutup acara malam itu dengan spektakuler. Tujuannya sederhana saja, menyatukan gitaris dan pemain bas di Bali. Berbeda dengan fenomena klub gitar dunia maya, pria kelahiran Gianyar ini membentuk klub yang berkegiatan secara nyata. Klub yang diresmikan sejak 23 Agustus 2008 ini menggelar tatap muka, jam session, workshop, klinik gitar yang menghadirkan gitaris profesional dan senior. Bahkan, klub ini sudah menelurkan album Bali Guitar Club 1st Anniversary Album.

”Konsepnya itu memajukan dunia gitar. Nggak usah muluk-muluk kita ngomong dunia musik, karena ruang lingkupannya luas. Kalau pemain gitar dan bas bagus, harapannya musiknya juga bagus. Banyak gitaris berbakat di Bali, tapi mereka tidak saling mengenal. Kadang-kadang yang jadi masalah di Indonesia itu band minded. Biarpun orang main pas-pasan, tapi bandnya ngetop, gitarisnya jadi terkenal. Dengan kita rekaman, mereka dapat kesempatan juga, walaupun mereka tidak punya band. Tapi tetap bisa eksis sebagai gitaris,” urai gitaris berteknik touch tapping style ini.

Seperti Budjana, Balawan lebih percaya distribusi album secara independen. Alumnus Australian Institute of Music ini melihat label mayor sedang kolaps. Balawan menggunakan teknik penjualan seperti musisi luar negri yakni menjual album saat manggung. Bicara angka penjualan, Balawan lebih menjunjung esensi komunitas.

”Lebih baik saya punya komunitas istilahnya 5.000 orang pembeli orisinal dan selalu menunggu, daripada 500 ribu orang pembeli bajakan, nggak penting juga. Beda kalau musik seperti ini. Inul dibajak jadi terkenal. Musik kayak gini dibajak nggak akan terkenal,” ujar penggemar Deep Purple ini.

Hari kedua terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Musik hari itu didominasi pop dan jazz. Langit pun terlihat lebih bersahabat ketika Dialog Dini Hari bernyanyi dilatari pelangi. Langit mulai tidak bersahabat ketika jawara A Mild Live Wanted, Kananlima tampil. ”Polisi nggak mungkin menghentikan acara, tapi tidak tahu kalau semesta,” cetus Bagus melihat hujan mulai turun.

Kehadiran pop Bali membuat penonton bergairah seusai hujan mulai mereda. Penyanyi pria pop Bali terbaik versi ajang “Apresiasi Musik Bali 2008”, Manik, membuat polisi yang bertugas mengamankan acara turut bernyanyi saat lagu “Mula Ketu” (Memang Begitu) dibawakan. Jika di Jawa ada Trio Macan, maka Bali punya Trio Kirani. Peraih penghargaan Gita Utama Nugraha pada ajang “Apresiasi Musik Bali 2008” ini membawakan “Ratu Sejagat” dengan dipadu koreografi.

XXX dan Nanoe Biru memanaskan malam yang dingin itu. Kolaborasi dua band pop rock berbahasa Bali ini membuat penonton melompat dan bernyanyi penuh gairah. Terlihat semua penonton hapal di luar kepala lirik-lirik mereka. Nanoe Biru menelurkan album Matunangan Ngajak Dewa yang memecahkan rekor MURI untuk konsep sampul album kaset terpanjang dan penyanyi yang mampu menjual lebih dari 1.000 album dalam waktu hanya dua jam saat peluncuran, lengkap dengan tandatangan si penyanyi di tempat. XXX merupakan band peraih penghargaan Gita Utama Nugraha sebagai artis pop Bali terpopuler di ajang Malam Apresiasi Musik Bali 2008.

Balawan memboyong dua penari kontemporer cantik ke panggung. ”Biasanya kami diundang oleh orang asing,” ujar Balawan di panggung. Namun kini Balawan & Batuan Etnik memesona penonton dengan fusion yang dinamis, menggabungkan mesra jazz dengan musik etnik Bali. Kolaborasi 18 gitaris, 4 drum, 2 bass menutup kemeriahan malam itu. ”Highway Star” milik Deep Purple memperlihatkan atraksi jemari anggota Bali Guitar Club yang atraktif. ”Bali Jamfest 2008” pun berakhir dengan gegap gempita sebelum tengah malam.

”Bali Jamfest 2008” telah membuka kesempatan musisi Bali untuk disaksikan khalayak lebih luas hingga ke Australia. Berkat daya dunia maya, acara ini dapat disaksikan lewat live streaming. Hasilnya, banyak artis luar negri antusias untuk tampil meski tanpa dibayar. ”Bali Jamfest” mulai merintis jalan menuju panggung internasional melalui Planet Earth Artist Community. Kita tunggu saja tanggal mainnya. Apakah akan digelar ”Live Earth” di Indonesia?

”Yang terpenting, kami sudah berusaha berbuat sesuatu. Hasilnya nggak sekarang, tahun depan dan berikutnya. Menciptakan sesuatu selalu dimulai dengan berat,” ujar Balawan.

*hadiah kelulusan saya menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi; dikirim RSI ke Bali untuk makan enak bersama sahabat, tidur di hotel berbintang ratusan dollar, dan menonton festival musik yang menyenangkan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s