#TVSeries Tokyo Cinderella Story/ Imouto Yo [妹よ]

Konsep Cinderella sudah berkali-kali diadaptasi menjadi bentuk yang berbeda. Terutama film Barat yang sering membuat kreasi yang berbeda, walau hanya berbeda tipis saja dari segi cerita. Dalam Tokyo Cinderella Story, benang merahnya hanya kisah percintaan pria kaya dengan perempuan miskin.

Tokyo Cinderella Story

Judul aslinya dalam bahasa Jepang memiliki makna yang berbeda dengan konsep Cinderella. Imouto Yo [妹よ]  berarti “sister of mine”. Korelasi judul dengan cerita memang lebih tepat.  Ini mengangkat kisah tentang hubungan kakak laki-laki dengan adik perempuannya. Perbedaan kedekatan hubungan darah. Tapi, Tokyo Cinderella Story memang terdengar lebih komersial.

Imouto Yo mengisahkan pertemuan pria kaya direktur Takagi Corporation, Takagi Mashashi (Toshiaki Karasawa) dengan perempuan pekerja kerah biru Matsui Yukiko (Wakui Emi) di stasiun kereta Tokyo. Takagi salah mengira kakak laki-laki Yukiko, Matsui Kikuo (Kishitani Goro) sebagai supir perusahaan yang ditugaskan menjemputnya di stasiun kereta. Sementara Kikuo yang baru datang dari desa membantu Takagi karena disangka sesama pendatang.

Kesalahpahaman ini mengantar pertemuan Takagi dengan Yukiko saat hujan. Yukiko yang datang menjemput memberikan penanda pertemuan dengan Takagi.  Payung merah menjadi pengikat cerita dari awal hingga tamat.

Di mata Takagi, Yukiko mengingatkannya pada adik perempuannya yang pergi meninggalkan rumah. Kedekatan hubungan Yukiko dengan Kikuo menjadi refleksi hubungan yang seharusnya dimiliki Takagi dengan adik perempuannya, Takagi Hitomi.

Adik Takagi ini meninggalkan rumah karena muak dengan keluarganya yang mementingkan kekayaan. Dia merasa keluarganya menelantarkan ibunya dalam kondisi sakit hingga meninggal. Saat konflik ini terjadi, Takagi sedang belajar di luar negri.

Ayah Takagi (Kouyama Shigeru) tidak mengambil langkah mencari adik Takagi. Kepergian adiknya itu justru membuat ayah Takagi menghapusnya dari daftar keluarga. Apalagi ketika tahu adiknya bekerja sebagai hostess di bar.

Kisah Cinderella ini tidak menghadirkan konflik keluarga yang menyiksa ala ibu tiri dan saudara tiri. Sang pangeran tidak hidup bahagia di kastilnya. Cinderella pun bukan perempuan lemah yang ditindas keluarga tirinya.

Pangeran

Takagi sebagai “pangeran” dalam kisah Cinderella ini pun bukan pria sempurna yang kaya raya. Sebagai direktur perusahaan, beban Takagi termasuk berat untuk mengelola konglomerasi Takagi Corporation yang memiliki banyak lini bisnis dari hotel, real estate, hingga taman bermain.

Karasawa Toshiaki

Dia juga bukan tuan muda yang malas-malasan mengurus bisnis. Keuangan Takagi Corporation saat itu bukan dalam posisi mulus. Kondisi finansialnya harus ditopang melalui merger dengan perusahaan raksasa lain. Salah satu syarat merger yang memberatkan yakni perjodohan Takagi dengan putri pemilik perusahaan yang diajak merger.

Sebagai konglomerat, Takagi mewarisi pola pikir ayahnya yang menilai semua urusan bisa diselesaikan dengan uang. Dia memberikan uang kepada kekasih adiknya untuk bisa menjalin hubungan kembali. Dia memberikan kartu kredit sebagai hadiah ulangtahun Yukiko.

Kencan ala Takagi pun sangat mewah dengan berlayar menggunakan yacht, berkuda, hingga menutup taman bermain hanya untuk dia dan Yukiko. Bahkan, Takagi memberikan uang pada Yukiko untuk berpura-pura menjadi kekasihnya sehingga bisa menghindari perjodohan. Ini membuat Yukiko sangat sakit hati.

Cinderella

Konsep Cinderella biasanya melemahkan kondisi perempuan sebagai pihak yang tidak bisa menyelamatkan diri dari penindasan. Seakan-akan kekayaan dan kekuasaan pangeranlah yang bisa mengangkat Cinderella dari keterpurukan.

Yukiko

Yukiko sebagai Cinderella bukan sosok yang butuh diselamatkan. Dia perempuan mandiri. Bayangkan saja, demi keluarganya Yukiko mengadu nasib di Tokyo dari desa. Sementara kakak laki-lakinya saja tidak jelas pekerjaannya di desa. Kendati masih level bawahan, Yukiko bekerja keras di perusahaannya.

Dia juga tinggal sendirian di apartemen sewaannya di Tokyo dengan gajinya. Dia pun harus menghemat untuk mengirim uang ke desa. Yukiko pun tidak mengeluhkan kondisi keuangannya. Dia sudah hidup bahagia dengan hasil yang dimilikinya.

Peran Takagi di sini mewarnai hidupnya dengan kemewahan yang hanya bisa jadi mimpi dalam kehidupan Yukiko. Tapi, kekayaan Takagi juga yang malah membuat Yukiko yang awalnya bahagia menjadi berduka. Keberadaan Takagi yang membuat dia kurang percaya diri, kadang memandang rendah kondisinya.

Kenangan

Serial ini dulu sempat diputar di TPI. Tapi, karena masih sekolah, saya tidak bisa mengikutinya setiap ditayangkan. Tanpa sengaja saya menemukan link streaming online di Tudou. Jadi bernostalgia menonton kembali. Mohon maaf ini dalam bahasa Jepang dengan subtitle China. Anda bisa merasa “lost in translation”.

Menonton ulang serial ini membuat Anda bisa membandingkan teknologi saat ini dengan 90-an. Baju dan model rambutnya juga kocak.

Di sini, akting Toshiaki masih terlalu datar walau cukup mencerminkan pribadi Takagi yang kaku. Sayang, kadang ekspresinya masih kurang sehingga emosinya tidak terbaca. Tapi, yang jelas di sini Toshiaki tampak tampan sekali dengan setelan jas. Luar biasa sebagai pangeran muda.

Berbeda dengan Wakui Emi yang bisa menjadi Yukiko yang menggemaskan, lemah lembut, dan tegar. Saya suka melihat gerak-gerik Yukiko yang kikuk. Pantas saja Emi meraih Best Actress dalam 3rd Television Drama Awards.

Serial ini menjadi salah satu dorama Jepang favorit saya. Konflik setiap episodenya selalu menarik untuk diikuti. Awalnya bukan kisah cinta. Hanya Takagi memanfaatkan Yukiko saja, sementara Yukiko bertepuk sebelah tangan.

Peralihan perasaan Takagi menjadi bagian paling menarik. Sebagai pemimpin Takagi Corporation, masa depannya sudah diarahkan secara jelas oleh sang ayah. Garis hidup yang dibuat ini malah membuat Takagi tidak mengetahui perasaannya sendiri, hanya ikut arahan.

Dalam kisah Cinderella ini, bukan pangeran yang mengubah hidup sang gadis malang. Tapi, sebaliknya. Yukiko yang membuat Takagi memahami peran uang dalam hidup dan perasaan. Gadis ini juga membuat Takagi berani menentukan pikiran, perasaan, dan putusannya sendiri.

Fuji TV

Tentu bumbu adegan-adegan romantis di sini bisa membuat tersenyum sumringah sendirian. Seperti pernyataan cinta di tengah salju.

Pilihan kata Takagi ketika melamar Yukiko paling istimewa. Membuktikan perwujudan kisah Cinderella bisa memiliki implikasi yang berat bagi kehidupan Takagi. Tapi, pilihan itu juga yang akan membuatnya bahagia.

Serial 10 episode ini kisah romansa yang menyenangkan ditonton berulang-ulang. Sayang, saya kesulitan menemukan streaming online atau penjual DVD yang menyertakan subtitle bahasa Inggris. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang sudah aus dimakan waktu, beberapa masih bisa saya pahami. Tapi, situs ini merangkum dialog dengan baik.

Sebagai tambahan, saya suka sekali opening theme song Chage& Aska, Meguri Ai. Artinya kesempatan untuk bertemu, cocok sekali dengan ceritanya. Saya ingat Yukiko menjelaskan alasannya jatuh cinta kepada Takagi karena dia bisa menemukannya dimana saja. Di tempat yang asing hingga saat berada di tengah keramaian.

Ini pasangan kisah romantis favorit saya. Mereka akan bertemu lagi beberapa tahun kemudian dalam serial Fuji TV lagi, Fumo Chitai. Jika Tokyo Cinderella Story merupakan favorit saya dalam urusan kisah cinta, Fumo Chitai menjadi dorama Jepang terbaik yang pernah saya saksikan. Nanti akan saya review di sini.

Penayangan: Fuji TV, TPI

Waktu Penayangan : 1994

Sutradara: Kozo Nagayama, Tohru Hayashi

Penulis skenario: Fumie Mizuhashi

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s