Sigur Rós Live in Singapore: Kisah Penggembala Jiwa dari Islandia

Konser itu hanya sebuah istilah formalitas untuk menjelaskan kedatangan Sigur Rós ke Fort Canning Park, Singapura pada Jumat (23/11). Penamaan aktivitas yang sejati seharusnya “perjalanan spiritual”. Sigur Rós bisa membawa jiwa-jiwa para saksi malam itu untuk mengembara. Memahami keindahan lepas dari kendala bahasa. Menangis tanpa perlu memahami makna dari setiap kata. Bersedia basah di tengah deras hujan dan tetap melompat bahagia. Bahkan, langit seakan bersedia berkonspirasi untuk menumpahkan airnya pada menit yang dramatis.

Malam itu langit Singapura kemerahan, sebuah pertanda yang buruk untuk konser di tempat terbuka. Hujan pun sudah lebat mengguyur langit Singapura dengan amunisi sambaran petir sejak sore. Rasanya hujan pun tidak dapat mengubah suasana menjadi muram. Debaran kebahagiaan sudah berdetak sebelum kaki menginjak Fort Canning Park.

Ketika tahu Sigur Rós ditangani LAMC Productions, rasanya hati sudah boleh tenang. Pengalaman saya menyaksikan Nine Inch Nails yang mereka tangani menjadi teladan penyelenggaraan konser. Akses pembelian tiket yang mudah, jalur masuk yang teratur, dan petugas yang siaga memberi informasi memberi ketenangan sebelum masuk. Kualitas tata suara dan pencahayaan juga tidak perlu diragukan. Booth merchandise dan deretan toilet umum juga tersedia di dekat pintu masuk. Pelayanan yang setimpal untuk tiket konser yang terjual habis. Berawal hanya 7.000 tiket, ditambah lagi 2.000 tiket untuk memenuhi antuasias yang berlebih.

Bicara venue, Fort Canning Park memberikan suasana yang tepat untuk menghadirkan Sigur Rós. Tempat terbuka hijau dengan banyak pepohonan besar memberikan kenyamanan tersendiri. Kondisinya yang seperti bukit membuat arah pandang dari berbagai sudut tampak jelas. Terlebih ketika para saksi duduk berbaris seperti sedang piknik dalam film Heima. Kendati kenyamanan saat duduk ini sempat menimbulkan konflik. Mereka berseru, “Duduk!” kepada orang-orang yang berdiri. Tapi, ketika Sigur Rós datang, semua sepakat untuk berdiri.

Jón Þór “Jónsi ” Birgisson (gitar, vokal), Georg “Goggi” Hólm (bass), Kjartan “Kjarri” Sveinsson (keyboard), dan Orri Páll Dýrason (drum) memasuki panggung dengan backdrop yang memproyeksikan imaji dari setiap lagunya. Sayang, tidak seluruh panggung tertutup latar belakang. Pemandangan belakang panggung yang terlihat sedikit merusak suasana magis yang dibangun di pentas. “Í Gær” menyapa langit merah bersama kerlip lampu dan semburat putih dari layar hitam. Sigur Rós tampil penuh ditemani brass dan string section.

“Vaka” yang diambil dari nama anak drummer, Orri dimainkan dengan suasana khidmat. Terkesima sudah menjadi ritual biasa ketika menyaksikan Sigur Rós.

Pesona terkuat berada di tenggorokan Jónsi. Pria ini sanggup menjangkau falsetto dengan begitu bening seperti tidak pernah melewati masa puber. Suaranya yang angelic mampu mendirikan bulu roma. Bahkan, seakan mampu mengontrol cuaca. Langit yang memerah kembali biru cerah dengan beberapa awan putih membingkai bulan.

Jónsi juga mempertunjukkan gesekkan busur biola ke gitarnya hingga bermain dengan giginya. Caranya menggesek mengingatkan dengan alat musik China, erhu. Bassist Goggi pun memperlihatkan eksperimen memainkan stik drum. Kjarri yang multi-instrumentalis pun tampak sibuk dengan peralatannya. Dialah otak di balik aransemen orkestra Sigur Rós yang memukau. Orri mampu mengantar drama dalam setiap lagu hingga mencapai klimaks.

“Glósóli” membuat napas seakan tercekat karena distorsi bisa terdengar begitu indah. “Svefn-g-e”glar” seperti dapat mengangkat kaki hingga tidak memijak tanah. Orang-orang yang datang diajak hibernasi seperti lirik di dalam lagunya. Keheningan tercipta ketika Jónsi mendekati piano dan mulai menyanyikan “Fljótavík”. “Viðrar Vel Til Loftárása”, mendengarkannya seperti hanyut mengikuti aliran sungai yang tenang dan jernih.

Kewarasan sementara hilang ketika denting penanda “Hoppípolla” dibunyikan. Sayang, sound terganggu pada lagu ini. Tapi, serentak semua bernyanyi bersama Jónsi tanpa peduli pengucapan liriknya tepat atau hanya sekenanya. Jemari Jónsi memberi panduan untuk mengeraskan suara. Paduan suara ini menerima ganjaran senyum yang merekah di wajah Jónsi. Sementara itu, para saksinya melompat bahagia hingga berlinang air mata. Puncak mimpi lama yang terjawab. “Með Blóðnasir” seketika menyambung hingga menggoyahkan kesadaran.

“Olsen Olsen” membawa hembusan dingin angin. Pikiran sudah dibawa ke padang rumput yang tertiup angin di tengah pegunungan bersalju Islandia. Awan bergerak perlahan. “Festival” membuktikan tidak ada lagu Sigur Rós yang disambut biasa saja, setidaknya mampu melemaskan lutut. “Varúð” kembali membuat merinding.

Untuk kali pertama dalam malam itu Jónsi berbicara, seperti menyadarkan 9.000 penonton bahwa dia itu manusia. Dia memperkenalkan judul lagu baru Sigur Rós, “Brennisteinn” dan berterima kasih kepada penonton. Sekejap terasa seperti konser hingga Sigur Rós membawakan lagunya dengan cahaya kehijauan. Sensasi mendengarkannya seperti diculik makhluk luar angkasa.

Menjelang akhir, kesadaran mulai dibangkitkan. Hujan seperti diatur tumpah secara perlahan. Gerimis kecil mewarnai “Ekki múkk” dari album Valtari, merasa seperti terseret ombak kecil di tengah laut. Beberapa penonton yang masih kesal karena pemandangannya tertutup payung akhirnya menutup mulutnya. Seperti diatur dengan volume pengeras, hujan pun semakin giat mengguyur ketika “Popplagið” dimainkan. Tidak sedikitpun melemahkan malam. Para saksi ini seperti anak kecil yang kegirangan bermandikan hujan. Berpadu dengan tetesan air mata perpisahan.

Sigur Rós seperti mengajak pencintanya bermain air ke pantai, tenggelam dalam kesunyian bawah laut, berlarian menyusuri hutan, hingga berkelana melewati batas muka bumi. Segala cipta keindahan yang menghabiskan semua kata-kata yang berusaha keras menggambarkannya. Mereka seperti bukan dari bumi. Lantas, menculik Anda ke dalam pengembaraan jiwa. Mengembalikan Anda ke bumi dengan kesadaran dari siraman air hujan. Ketika melangkah keluar dari Fort Canning Park, Anda bukan orang yang sama lagi. Karena Anda telah bertemu dengan Sigur Rós. Sekali lagi, ini bukan sekadar konser.

Enjoy my photoset of Sigur Rós live in Singapore here.

Advertisements

4 thoughts on “Sigur Rós Live in Singapore: Kisah Penggembala Jiwa dari Islandia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s