#Interviewed Europe on Screen – Republika: Perkaya Khazanah Perfilman

Tresspassing Bergman, salah satu film dokumenter yang sangat menarik di Europe on Screen. Setelah menonton, saya diwawancara sebagai penonton. Lucunya, saya baru tahu beritanya jadi terbit karena media monitoring kantor :)))

bergman

Perkaya Khazanah Perfilman

Setiap pagi, tak ada yang paling diinginkan Jackson, Carlito, Zahra, dan Samuel, selain pergi ke sekolah. Semangat mereka tak pernah padam meski perlu perjuangan keras untuk sekadarsampai ke kelas.

Jackson (10 tahun) asal Kenya, harus menghadapi kemungkinan serangan gajah sepanjang perjalanannya ke sekolah. DiArgentina, Carlito (11), anak sekecil itu, berkuda melewati pegunungan Patagonia. Ada pula Zahira (12) di Maroko,yang berjalan kaki menempuh jarak 22 kilometer Lalu Samuel (11) dari India, siswa dengan keterbatasan fisik,yang harus berkursi roda di atas jalan terjal

Meski tak saling mengenal, kondisi keempat anak itu serupa. Gambaran nyata itu ingin mengingatkan penonton untuk mensyukuri nikmatnya bisa bersekolah dengan nyaman.
Kisah para siswa pejuang tersebut didokumentasikan dalam tayangan dokumenter berjudul On the Way to SchooL Besutan sutradara Belanda Pascal Plisson itu termasuk seri dokumenter (Docu-Section) pada Europe on Screen (EOS) 2015.

Keseluruhan 11 tayangan dokumenter yang ditayangkan EOS yaitu 20.000 Days on Earth, Ai Weiwei: The Fake Case, Citizenfour, Dutch Weed, Homme Less, My Name isSalt, On the Wayto School, Onty the Best forOurSon, Steak (R)evo-lution, The Special Need, dan Trespassing Bergman.

Venue Koordinator EOS 2015 di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institute, Vania Ivena, menyebutkan, daya tarik tayangan doku-mentertak kalah dengan film fiksi. Buktinya, fluktuasi jumlah pengunjung saat pemutaran Docu-Section tak surut. “Saat pemutaran Citizenfourd\ Goethe malah termasuk paling tinggi. Ditonton 275 orang,” ungkap Vania.

Tayangan lain dari Swedia, Trespassing Bergman, juga menyedot pemirsa. Film dokumenter itu mengulas segaia tentang almarhum sutradara kondang Swedia, Ingmar Bergman. Jane Magnusson selaku sutradara mendokumentasikan perjalanan sejumlah film maker terkenalyang bertandang ke kediaman mendiang Bergman di pulau terpencil, Faro.yang kini difungsikan sebagai museum.

Dokumenter itu juga menyajikan kronologi karierdan sejumlah cuplikan dari karya ter-mashyur Ing mar Bergman. Karya-karyanya dikenalsarat filosofi kehidupan, tetapi ringan dan penuh humor elegan.

Pengunjung EOS, Karlina Octaviany (30), mengatakan bahwa Trespassing Bergman memperkaya pengetahuannya tentang perfilman. Sebelumnya, Karlina belum pernah menonton karya Bergman,yang telah memproduksi film sejak 1950-an.

Perempuan yang bekerja sebagai konsultan social media di PNPM Support Facility itu tak menyangka, sosok Berg mania h yang menjadi inspirasi bagi sederet sutradara penting di dunia. Karlina geli saat mendengar sutradara Alejandro Gonzalez Inarritu menyebut rumah Bergman layaknya kiblat insan perfilman.

“Jadi ingin lihat filmnya Ingmar Bergman, terutama yang The Seventh Seal” ungkap Karlina, yang datang ke EOS setiap hari untuk menikmati film Eropa. cSied: dewi mardiani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s